Guru Ngaji Dita Oepriato Dikabarkan Meninggal, Korban Selamat Bom Gereja Surabaya Maafkan Pelaku
Twitter/AntonChaliyan
Nasional

Ali Fauzi Manzi, mantan narapidana terorime menyebut jika guru ngaji Dita Oepriato tidak hanya Cholid Abu Bakar.

WowKeren - Ali Fauzi Manzi, mantan narapidana terorime menyebut jika guru ngaji Dita Oepriato tidak hanya Cholid abu Bakar (CAB) . CAB saat ini masih berstatus sebagai buronan oleh kepolisian Republik Indonesia.

"Sesungguhnya guru daripada Dita bukan dia saja," kata Ali dilansir Tempo.co pada Senin (28/5). "Tapi saya mendapat satu nama."

Saat itu Ali usai menjadi pembicara dalam acara seminar tentang terorisme di Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, pada Sabtu (26/5). Ali menjelaskan jika nama guru Dita yang tidak ia sebutkan ini menjadi alasan utama kenapa Dita tergabung dalam kelompok ekstrem.

"Sesungguhnya Dita terpapar kelompok ekstrem ini karena beliau," lanjut Ali. Ditanyai perihal dimana lokasi guru Dita yang lain itu sekarang, Ali enggan menjawab. Ali hanya mengatakan jika salah satu guru dari Dita itu telah meninggal.

"Meninggal karena sakit biasa," sambung Ali. "Dia asal Surabaya dari kelompak yang sedang bermain saat ini (Jamaah Ansharut Daulah)."

Sementara itu, salah satu korban yang selamat dari ledakan bom di tiga gereja Surabaya, Yesaya Bayang sudah mulai membaik di Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL) Dr Ramelan Surabaya. Meski sudah mampu diajak bicara, tapi tangan Yesaya masih terbalut perban serta empat jemarinya terlihat benang senar yang menancap dan ditarik hingga ke lengan.

Bagian wajah Yeyasa nampak bersih. Meksipun terdapat jahitan di sekitar mulut, pipi, dan area kelopak mata serta di telinga kirinya. Yeyasa adalah satpam yang bekerja di Gereja Kristen Indonesia Jalan Diponegoro.

Ia mengaku tidak trauma dengan kejadian ledakan bom bunuh diri pada Minggu (13/5) lalu. Ia juga mengaku akan tetap bekerja di gereja itu.

"Saya tidak trauma," kata Yeyasa. "Saya akan bekerja lagi di gereja itu."

Pria yang berasal dari Nusa Tenggara Timur ini, meski menjadi korban namun ia tidak menaruh dendam pada pelaku. Menurut Yesaya, semua agama mengajarkan kebaikan.

Di daerah asalnya yakni Alor, Yesaya menjelaskan jika gereja dan masjid di sana saling berdampingan. Hal itu sudah biasa dan suasananya aman.

"Di sana gereja bersebelahan dengan masjid," lanjut Yesaya. "Semua sudah biasa dan aman, karena semua agama mengajarkan kebaikan.

Yesaya kemudian menceritakan dirinya sewaktu di lokasi kejadian. Ia sempat menarik pelaku dengan tangan kanannya. Tapi kemudian bom keburu meledak.

You can share this post!

Related Posts