Alasan Psikologis Dibalik Orang yang Selalu Berbohong, Mirip Narsisme dan Psikopati?
SerbaSerbi

Pembohong patologis adalah gangguan dalam diri seseorang serta gejala gangguan kepribadian. Sama seperti psikopati dan narsisme.

WowKeren - Berbohong adalah menyatakan seseuatu yang tidak benar dan cenderung menguntungkan satu pihak saja. Kebohongan dibuat dengan tujuan agar pendengarnya percaya. Meski buruk, tidak dapat dipungkiri bahwa perilaku berbohong telah menjadi hal yang biasa terjadi di kehidupan sehari-hari.

Kebohongan dapat terjadi untuk beberapa hal. Ada individu yang berbohong untuk membuat kesan positif terhadap orang lain. Hal itu juga dilakukan untuk melindungi dirinya sendiri dari rasa malu atau penolakan orang lain.


Ada juga individu yng memiliki niatan mengambil keuntungan dari sebuah kebohongan. Selain itu, terkadang seseorang berbohong untuk melindungi orang lain atau temannya sendiri. Apapun tujuan dibalik itu, sejatinya berbohong tetaplah perbuatan yang tidak baik.

Seseorang akan mulai berbohong sejak kecil, sekitar usia 3 hingga 4 tahun. Pada titik ini dalam perkembangan otak seseorang, mereka belajar bahwa bahasa adalah sebuah alat yang serbaguna dan sangat kuat. Bahasa dapat digunakan untuk bermain dengan kenyataan dan mempengaruhi hasil yang terjadi.

Meski tau buruknya berbohong, ada beberapa orang yang merupakan pembohong patologis atau mythomania. Pembohong patologis adalah ganguan psikologis yang membuat seseorang tidak bisa berhenti berbohong. Mereka akan terus menyebarkan informasi yang salah tentang dirinya sendiri maupun orang lain.

Dalam "Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders" edisi ketiga dijelaskan bahwa pembohong patologis adalah gangguan dalam diri seseorang serta gejala gangguan kepribadian. Sama seperti psikopati dan narsisme.

"Aku berpikir itu berasal dari cacat dalam kabel neurologis yang berfungsi untuk menciptakan rasa belas kasih dan empati dalam diri seseorang," ujar psikiater Judith Orloff, penulis buku The Empath's Survival Guide. "Karena narsisme, sosiopat dan psikopat memiliki apa yang disebut gangguan kekurangan empati, yang berarti mereka tidak merasakan empati seperti cara kita merasakannya."

Ketika seseorang sudah tidak peduli dengan orang lain, maka kebohongan bukan masalah besar untuknya. Kurangnya empati pada dasarnya berarti kurangnya hati nurani yang merupakan konsep yang sulit dipahami oleh banyak orang. "Ketika mereka berbohong, mereka tidak merasa tersakiti seperti halnya kita disakiti oleh mereka," lanjut Orloff.

Parahnya, terkadang pembohong patologis tidak menyadari mereka telah berbohong separuh waktu. Menurut Orloff, mereka bisa saja benar-benar percaya bahwa selama ini telah mengatakan kebenaran. Hal ini bukan lagi tentang fakta, namun soal ingin memiliki kekuasaan atas seseorang.

Kondisi seperti ini bisa berbahaya bagi orang yang sangat sensitif. Pasalnya hal tersebut menarik perhatian narsisis. Ketika mengetahui seseorang berbohong,mereka akan mencari tahu dan menyalahkan diri sendiri. Korban yang sensitif ini akan diberitahu berulang-ulang bahwa versi sesungguhnya tidak benar. Ia akan mulai percaya 'kebenaran' versi si pembohong patologis.

Ada satu cara efektif untuk melepaskan diri dari kebohongan-kebohongan tersebut. Seseorang harus cukup kuat dan yakin untuk mengatakan, "Tidak, ini bukan salahku. Ini tidak benar bagiku, jadi aku tidak bisa mempercayaimu." Namun terkadang seseorang ragu terhadap diri mereka sendiri.

Menurut seorang psikolog, Ajeng Raviando, pembohong patologis dapat disebabkan dari kebiasaan berbohong sejak kecil. Seorang anak mungkin merasa hal itu wajar tanpa pembekalan moral yang benar dari orang tuanya. Maka sebaiknya kebohongan sekecil apapun harus ditindaklanjuti oleh orang tua agar tidak menjadi kebiasaan.

You can share this post!

Related Posts