Sebut Ada Pemimpin yang Tak Legowo Saat Ungkit Kekalahannya di Pilpres 2014, Prabowo Sindir Siapa?
Twitter/Gerindra
Nasional

Merasa diperlakukan tidak benar di Pilpres 2014, Prabowo sebut dirinya tetap lapang dada dan mengakui kemenangan Jokowi.

WowKeren - Calon Presiden Indonesia nomor urut 02, Prabowo Subianto, kembali menyinggung soal kekalahannya pada Pemilu tahun 2014 yang lalu. Dalam pidatonya, Prabowo mengatakan bahwa dirinya termasuk orang yang lapang dada menerima kekalahan. Meskipun demikian, dirinya mengaku mendapatkan sejumlah kecurangan yang tak mendapatkan perhatian.

Pada saat itu, Prabowo berpasangan dengan Hatta Rajasa melawan pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Namun, dirinya dinyatakan kalah dan memunculkan Jokowi-Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia periode 2014-2019.


Kembali mengungkit kekalahannya dalam Pemilu 2014 lalu, Prabowo mengatakan bahwa dirinya mendapatkan perlakukan yang kurang menyenangkan. Ia mengaku menemukan sejumlah kecurangan. Namun, usahanya untuk mengungkap kecurangan-kecurangan tersebut terhalang oleh keputusan Mahkamah Konstitusi (MK). Kendati demikian, ia mengaku tetap legowo alias menerima kemenangan Jokowi dengan lapang dada.

"Saya sudah buktikan, tahun 2014 sebetulnya pihak kami merasa diperlakukan dengan tidak benar. Hakim-hakim MK tidak mau buka bukti-bukti yang kami bawa," ujar Prabowo dalam pidatonya saat Konfernas Gerindra di Sentul pada Senin (17/12) kemarin. "Saya tidak apa-apa. Terima saja, saya bahkan datang ke pelantikan."

Dalam pidato tersebut, Prabowo juga menyampaikan sindiran pada pemimpin yang tak mau mengakui kemenangan lawannya bahkan tak hadir di pelantikan. Sayang, mantan Panglima Kostrad ini tak menyebutkan siapa tokoh yang ia maksud. "Ada yang tidak pernah datang kalau lawannya dilantik. Kasih tangan aja enggak mau," lanjut Prabowo.

Prabowo mengatakan bahwa sikap tersebut bukanlah hal yang patut ditiru. Menurutnya, sikap seolah tak legowo dengan kekalahan itu bukanlah contoh berdemokrasi yang baik.

Dalam kesempatan yang sama, Prabowo juga mengungkit soal gaya demokrasi mantan-mantan Presiden Indonesia terdahulu, yakni Soekarno dan Soeharto. Menurutnya, kedua pemimpin itupun mundur dengan lapang dada saat masyarakat menghendaki untuk mengganti pemimpin mereka.

"Demokrasi berarti rakyat berhak mengganti pemimpinnya kalau rakyat menghendaki," ungkap Prabowo. "Kenapa harus ribut ganti pemimpin. Kalau pengemudi taksi kelihatannya salah jalan, apa enggak lebih baik diganti?"

You can share this post!

Related Posts
Loading...