Menristek Dikti Tegaskan Tak Ada Kerja Paksa Mahasiswa Indonesia di Taiwan
Instagram/ristekdikti
Nasional

Mohamad Nasir heran dengan pemberitaan kerja paksa mahasiswa di Taiwan, sebab menurutnya hubungan Indonesia dengan negara tersebut cukup baik.

WowKeren - Praktik kerja paksa yang dilakukan terhadap mahasiswa Indonesia di Taiwan cukup membuat publik gerah. Pasalnya, menurut kabar yang beredar dikatakan bahwa para pelajar tersebut harus bekerja selama sepuluh jam dalam sehari dengan upah yang rendah.

Terkait hal ini, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti), Mohamad Nasir, angkat bicara. Ia menegaskan bahwa tidak ada mahasiswa yang menjalani kerja paksa di Taiwan. “Kami sudah cek, sebenarnya tidak ada ‘kerja paksa’ itu," ujar Nasir di Semarang, Jumat (4/1).


Menurut Nasir, berita tersebut memang sengaja dihembuskan untuk kepentingan politik. Hal ini mengingat saat ini sedang ada proses pemilihan presiden di negara itu. Isu tersebut sengaja disebarluaskan untuk menjatuhkan lawan politik.

“Jadi ini masalah berita lama, dan sekarang sedang ada pemilihan presiden di sana, jadi isu ini muncul terus,” jelas Nasir. “Intinya bagaimana lawan menghancurkan dengan berita itu.”

Nasir juga mengatakan bahwa dirinya telah berkoordinasi dengan Kantor Ekonomi dan Dagang Taipei (TETO) terkait isu tersebut. Dari koordinasi tersebut, disimpulkan bahwa tidak ada mahasiswa Indonesia yang dipaksa bekerja di Taiwan. Ia meluruskan bahwa bahwa para mahasiswa tersebut sebenarnya adalah tenaga kerja yang juga kuliah, bukan kuliah kemudian mencari kerja.

“Nah, yang masalah adalah tenaga kerja,” ujar Nasir. “Jadi mereka itu tenaga kerja sambil kuliah, bukan kuliah kemudian mencari kerja. Jadi urusannya ke tenaga kerja.”

Sebelumnya, sempat diberitakan juga bahwa ratusan mahasiswa tersebut diberi makanan yang tidak halal. Isu ini juga ditepis oleh Nasir. Sebab, pihak kampus menyediakan beasiswa untuk mahasiswa muslim di sana.

Ketika berita kerja paksa ini beredar, Nasir merasa heran. Sebab menurutnya, selama ini Indonesia dan Taiwan memiliki hubungan yang baik, termasuk dalam hal pertukaran pelajar. Bahkan menurut Nasir, tak sedikit perguruan tinggi di Taiwan yang meraih peringkat universitas terbaik dunia.

“Tenaga kerja dan pendidikan sangat baik di sana,” imbuh Nasir. “Kualitas perguruan tinggi di sana tidak main-main, masuk 500 besar dunia banyak.”

You can share this post!

Related Posts