Dua Pimpinan KPK Diteror Bom, Pelaku Diduga Satu Jaringan Dengan Penyerang Novel Baswedan
Nasional

Wadah Pegawai KPK menduga teror bom dua pimpinan tersebut memiliki korelasi dengan kasus teror KPK lainnya.

WowKeren - Publik baru saja dikejutkan dengan kabar teror bom di rumah dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu (9/1) kemarin. Kedua pimpinan tersebut adalah Ketua KPK Agus Rahardjo dan wakilnya, Laode M. Syarif.

Diketahui, rumah Laode dilempari dua buah botol yang diduga bom molotov pada Rabu pagi. Botol yang pertama tidak pecah, sedangkan yang kedua pecah dan terbakar, namun tidak besar.


Sementara itu, petugas keamanan menemukan benda diduga bom tergeletak di depan rumah Ketua KPK. Kala kejadian Agus sendiri sedang tidak berada di rumah. Menurut Agus, benda diduga bom rakitan tersebut berupa paralon yang dibungkus.

Wadah Pegawai KPK menduga teror bom tersebut memiliki korelasi dengan kasus teror KPK lainnya. "Teror ke pimpinan hari ini adalah satu kesatuan utuh rangkaian teror terhadap pejabat dan pegawai KPK yang sampai saat ini tak kunjung terungkap," terang Ketua WP KPK, Yudi Purnomo, pada 9 Januari 2019.

Menurut Yudi, teror terhadap kedua pimpinan KPK tersebut diduga memiliki hubungan lantaran adanya kemiripan pada jumlah pelaku. Pasalnya, teror di rumah Agus dan Laode diketahui dilakukan oleh dua orang.

Sementara itu, hal yang sama juga terjadi dalam kasus penyerangan penyidik senior KPK, Novel Baswedan pada 2017 dan teror ke rumah penyidik Afief Yulian Miftach pada pertengahan 2015. Yudi juga menjelaskan bahwa ketiga kasus tersebut memiliki kemiripan lain, yaitu modus teror lewat bom dan air keras.

Diketahui, Novel disiram air keras oleh dua orang tak dikenal yang mengendarai sepeda motor pada 11 April 2017. Hingga kini, kasus penyerangan Novel tak kunjung selesai.

Sedangkan rumah Afief di Jakamulya, Bekasi, pernah disatroni oleh dua orang tak dikenal. Keduanya kemudian meletakkan sebuah bungkusan mirip bom. Tak hanya itu, kap mobil Afief yang diparkir di halaman rumah juga melepuh karena disiram air keras.

Ketiga kasus tersebut sama-sama melibatkan bom dan air keras. Kemiripan-kemiripan itulah yang membuat WP KPK membuat dugaan pelaku berasal dari jaringan yang sama.

"Jadi dari sini kami menarik hipotesis sementara bisa jadi ini adalah orang dan jaringan yang sama," ungkap Yudi. "Tapi karena tidak terungkap mereka terus melakukan tindakan untuk meneror penyidik KPK."

Yudi menegaskan bahwa kasus teror tersebut harus diungkap. Ia khawatir teror lainnya akan menimpa KPK apabila kasus ini tak terselesaikan. Yudi meminta Presiden menunjukkan komitmennya untuk memberantas korupsi dengan mengungkap kasus ini.

"Jika ini tidak terungkap," tutur Yudi. "Kami yakin ini bukanlah yang terakhir."

You can share this post!

Related Posts