Neraca Dagang RI Tekor Terus, Jokowi: Kok Bodoh Banget Kita?
Nasional

Jokowi mengungkapkan kekesalannya terhadap defisit neraca perdagangan Indonesia dalam Rapat Koordinasi Investasi, pada Selasa (12/3).

WowKeren - Presiden Joko Widodo mengikuti rapat koordinasi investasi yang diselenggarakan Badan Koordinasi Penanaman Modal di Tangerang pada Selasa (12/2). Dalam acara tersebut, Jokowi mengungkapkan kekesalannya terhadap defisit neraca perdagangan Indonesia.

Menurut Jokowi, defisit neraca dagang dan defisit transaksi sudah membebani negara selama puluhan tahun. Padahal, kunci untuk mengatasi defisit tersebut telah diketahui, yakni investasi dan ekspor. Kedua aspek tersebut diyakini menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.


"Tahu kesalahan kita, tahu kekurangan kita, rupiahnya berapa defisit kita tahu," tutur Jokowi. "Kok tidak diselesaikan, bodoh banget kita kalau seperti ini."

Jokowi menjelaskan karena ekspor merupakan kunci untuk mengatasi defisit tersebut, maka seluruh industri yang berada di dalamnya harus dipermudah perizinannya. Mulai dari industri yang berorientasi ekspor, hingga industri yang melakukan hilirisasi.

"Kita sudah sampaikan ke Menkeu, kalau ada industri petrokimia (minta izin) tutup mata, beri tax holiday," ujar Jokowi. "Dan tak perlu pikir lama-lama, dari pada kita defisit."

Tak hanya itu, Jokowi juga menyampaikan bahwa Indonesia sudah ditinggal oleh negara-negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia, dari sisi investasi dan ekspor. Mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut lantas menegaskan bahwa Indonesia ke depannya tidak boleh terus ditinggal oleh negara lain seperti Kamboja dan Laos. Pasalnya, Indonesia dinilai sudah memiliki kekuatan yang besar.

"Kita 2, 3 tahun ini sudah banyak kemajuan dalam mendorong investasi," jelas Jokowi. "Peringkat investasi kita sejak 2017, kita sudah masuk dalam peringkat negara layak investasi. Investment grade."

Peringkat tersebut, menurut Jokowi, merupakan poin penting yang harus dimanfaatkan. Pasalnya, peringkat tersebut diperoleh dari tiga lembaga pemeringkat internasional yaitu, Standard and Poors (S&P), Moodys dan Fitch.

"Ini modal besar," ucap Jokowi. "Namun kalau tidak kita manfaatkan ya percuma modal yang kita dapatkan ini."

Di sisi lain, Jokowi menilai rendahnya angka investasi di Indonesia pasti ada penyebabnya. Ia menyebut masalah bisa datang dari soal perizinan atau pembebasan lahan yang bertele-tele. Masalah-masalah semacam itu, dikatakan Jokowi, bisa membuat para investor mengurungkan niat mereka untuk menanamkan modal di Indonesia.

You can share this post!

Related Posts
Loading...