Tanggapi 52 Warga yang Ngungsi, Khofifah: Kalau Ponorogo Kiamat Dipikir Malang Aman?
Nasional

52 orang warga Ponorogo pindah ke Malang dalam satu bulan terakhir lantaran termakan isu soal kiamat.

WowKeren - Baru-baru ini, puluhan warga Ponorogo dikabarkan pindah ke Malang. Tercatat ada 52 orang warga dari Dukuh Krajan, Desa Watubonang, Kecamatan Badegan, Ponorogo, yang pindah dalam satu bulan terakhir karena termakan isu soal kiamat.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, pun buka suara. Khofifah menuturkan bahwa hingga kini memang masih ada kerentanan di masyarakat saat mendapat informasi dari orang baru. Menurut Khofifah, 52 warga yang mengungsi ke Malang tersebut harusnya melakukan klarifikasi dan tabayyun terlebih dahulu.


"Atau mereka salah referensi," tutur Khofifah di Gedung Negara Grahadi, Rabu (13/3) malam. "Sehingga ketika orang yang merasa menjadi panutan dalam hidupnya itu menyampaikan sesuatu, ya sudah. Langsung percaya, dianggap sebuah kebenaran."

Berdasarkan fenomena tersebut, Khofifah menilai bahwa pemerintah harus lebih sering berkomunikasi langsung dengan masyarakat. Dengan demikian, masyarakat tidak akan mudah terpengaruh oleh informasi-informasi yang menyesatkan.

"Adanya fenomena ini, saya rasa menjadikan kita semua harus semakin banyak berkomunikasi," jelas Khofifah. "Dan bersapa dengan masyarakat."

Tak hanya itu, Khofifah juga heran dengan fenomena pindahnya 52 warga Ponorogo tersebut. Pasalnya, apabila kiamat memang akan terjadi, tentu hal tersebut tidak akan bisa dihindari meski mereka berpindah lokasi.

"Ini kok bisa orang pindah ke Malang. Jadi, kalau katanya ada kiamat itu, kiamat subro apa gimana? Aneh ya, masya Allah," ujar Khofifah. "Dipikir kalau di sana (Ponorogo) kiamat, terus dia akan aman di Malang."

Diketahui, para warga Ponorogo yang pindah ke Malang tersebut mengaku mendapat bisikan atau doktrin mengenai kiamat sudah dekat. Tak hanya mengungsi ke Malang, mereka juga sudah menjual aset-aset berharga sebagai bekal akhirat.

Hasil penjualan tersebut lantas disetor ke salah satu pondok di Kecamatan Kasembon, Malang. Tak tanggung-tanggung, mereka disebut menjual rumah, tanah, dan apapun yang mereka jual untuk biaya mondok di Malang. Harganya pun cukup tinggi, yakni mulai dari Rp 10 juta hingga Rp 30 juta.

You can share this post!

Related Posts
Loading...