Psikolog Beber Alasan Nikita Mirzani Hobi Ikut Campur Masalah Artis Lain
Instagram/nikitamirzanimawardi_17
Selebriti

Pakar media sosial juga ikut memberikan komentarnya perihal hobi Nikita Mirzani ini.

WowKeren - Bukan Nikita Mirzani namanya jika tak ikut memberikan komentar perihal berbagai masalah yang menimpa selebriti. Nikita bisa dipastikan akan muncul di berbagai media setiap kali sejumlah selebriti tertimpa kasus atau sekedar menjadi sorotan. Ibu dua anak ini seolah memiliki berbagai informasi tentang artis yang tengah menjadi sorotan kala itu.

Sebut saja soal pernikahan Syahrini dan Reino Barack. Nikita menyebutkan bahwa Reino dan Syahrini sebenarnya sudah menjalin kasih sejak bulan Juni 2018. Tak sembarangan, Nikita mengaku mendapat informasi dari teman-teman dekatnya jika Syahrini dan Reino pernah kepergok pergi ke Jepang sekitar bulan Juni lalu.


Kemudian Nikita juga sering memberikan berbagai sindiran pedas di media sosial tentang artis-artis yang banyak disorot. Tak jarang bintang film "Jakarta Undercover" itu ikut membuka aib artis-artis yang sedang viral di media sosial. Secara psikologis, perilaku Nikita ini rupanya mengindikasikan adanya gangguan bernama Histrionik.

Hal tersebut diungkapkan oleh psikolog bernama Joice Manurung dalam acara "Status Selebriti" belum lama ini. "Nah untuk kondisi ini disebut dengan gangguan Histrionik namanya. Jadi orang-orang yang mengalami gangguan perilaku Histrionik itu dia punya kebutuhan besar banget untuk dapat perhatian orang," kata Joice dalam tayangan "Status Selebriti" yang diunggah pada Minggu (17/3).

Joice pun mengungkapkan alasan Nikita membutuhkan perhatian orang melalui postingan dan pernyataannya yang kontroversial. "Nah kenapa dia pengen dapat perhatian? Karena dia sendiri merasa tidak menemukan citra dirinya seperti apa," lanjut Joice Manurung.

Perilaku Nikita ini juga ikut mendapat komentar dari Dr. Irwansyah S.Sos, MA yang merupakan pakar media sosial. Dr. Irwansyah mengatakan bahwa perilaku Nikita termasuk ke dalam narsisme yang mengindikasikan keinginan untuk lebih dominan dan berada di atas yang lain serta dihargai.

"Narsis ini beda sama self esteem. Kalau narsis itu lebih menunjukkan keinginan-keinginan untuk lebih berada dominan, lebih tinggi di atas, ingin dihargai sangat tinggi," ujar Dr. Irwansyah. "Kemudian dia menunjukkan bahwa dia lah yang menjadi pusat utama. Kalau istilah sekarang itu nyinyir. Jadi ceritanya ke mana-mana. Apapun yang dibangun dengan subjektivitas. Nah dampaknya adalah menunjukkan, ini sebenarnya orang yang ingin bicara banyak tapi isinya enggak ada sama sekali."

You can share this post!

Related Posts
Loading...