BPN Prabowo Ancam Tuntut Lembaga Survei Yang Sebut Jokowi Unggul 20 Persen Jika Beda dengan Pilpres
Nasional

Andre menilai selama ini tak sedikit lembaga survei yang merilis prediksi mereka namun tidak sesuai dengan perhitungan suara saat Pemilu yang sesungguhnya digelar.

WowKeren - Sejumlah lembaga survei telah merilis hasil survei terkait elektabilitas Joko Widodo alias Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Hasilnya pun berbeda-beda antara lembaga satu dengan yang lainnya. Sejumlah lembaga survei menyatakan bahwa Jokowi-Ma'ruf unggul diatas Prabowo-Sandiaga.

Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Andre Rosiade, mengatakan bahwa pihaknya akan mencatat seluruh lembaga survei yang menyebut Jokowi-Ma'ruf unggul di atas angka 20 persen dari Prabowo-Sandiaga. Ia mengancam akan menuntut lembaga-lembaga tersebut jika hasilnya tidak sesuai dengan Pilpres.


"Kita catat seluruh lembaga survei yang bilang Pak Jokowi menang di atas 20 persen," kata Andre usai menghadiri rilis survei Indo Barometer di Hotel Century Park, Senayan, Jakarta, Kamis (21/3). "Kalau nanti nggak sama di atas 20 persen, kita tuntut mereka."

Alasannya, BPN yakin bahwa Prabowo lebih unggul dibanding Jokowi. "Karena menurut prediksi kami, yang insyaallah Pak Prabowo menang, tapi siapa pun yang menang akan seperti 2014 lalu, sangat tipis dan sangat ketat," tegas Andre.

Andre kemudian mencontohkan satu-persatu kesalahan lembaga survei saat gelaran Pilkada Jawa Barat beberapa waktu lalu. Dikatakannya, sejumlah lembaga survei bahkan mengalami eror lebih dari 100 persen. Berkaca dari banyaknya eror yang terjadi, Andre yakin bahwa lembaga-lembaga tersebut juga akan memberikan kesalahan yang sama di Pilpres mendatang.

"Jadi LSI Denny JA itu di Pilkada Jawa Barat itu erornya 217 persen, Charta Politika erornya 203 persen, Litbang Kompas erornya 174 persen, Indikator erornya 76 persen, Indo Barometer erornya 75 persen, SMRC erornya 80 persen," jelas Andre. "Jadi mereka sering eror gitu lho. Dan mereka insyaallah akan eror juga di Pilpres 2019 ini."

Andre menilai bahwa hasil survei dari sejumlah lembaga memang sengaja dibuat sedemikian rupa untuk menggiring opini publik. Ia lantas mempertanyakan pertanggungjawaban lembaga-lembaga itu ketika perhitungan suara yang sesungguhnya tidak sama dengan yang mereka prediksikan sebelumnya.

"Mereka seenak perutnya sebelum Pemilu, sebelum Pilkada bilang ini menang, ini menang, dengan angka tebal untuk membangun narasi dan membangun opini," tegas Andre. "Tapi setelah hasilnya selesai mereka tidak bertanggung jawab. Baru pas quick count mereka baru beneran keluarin hasilnya."

You can share this post!

Related Posts
Loading...