Kemenperin Bantah Pernyataan Prabowo Soal Deindustrialisasi Indonesia
Nasional

Dalam debat terakhir Capres-Cawapres pada Sabtu (13/4), Prabowo Subianto menyebut bahwa Indonesia mengalami deindustrialisasi dimana bangsa ini lebih banyak menerima dari negara lain.

WowKeren - Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto dengan calon wakilnya, Sandiaga Uno, mendapatkan giliran pertama untuk menyampaikan visi dan misi mereka. Dalam kesempatan itu, Prabowo kembali mengungkit masalah kebocoran anggaran negara.

Ia menyoroti tingkat kegiatan Industri yang ada di Indonesia. Menurutnya saat ini, Indonesia sedang dalam kondisi deindustrialisasi dimana yang dilakukan oleh Indonesia lebih banyak menerima bahan produksi dari bangsa-bangsa lain. "Telah terjadi deindustrialisasi. Kalau negara yang lain industrialisasi, kita deindustrialisasi," kata Prabowo di Hotel Sultan, Sabtu (13/4).


Pernyataan Prabowo tersebut mendapat tanggapan dari Kementerian Perindustrian. Sekretaris Jenderal Kemenperin Haris Munandar membantah jika Indonesia disebut mengalami deindustrialisasi. Menurutnya deindustrialisasi adalah suatu kondisi dimana kontribusi industri terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sangat rendah.

Sedangkan yang terjadi di Indonesia tidak demikian. Menurutnya, kontribusi industri di Indonesia masih tinggi. Ditambah dengan investasi yang terus mengalir, menunjukkan bahwa Indonesia tidak mengalami seperti apa yang disebutkan oleh Prabowo.

"Gejala deindustrialisasi itu ketika kontribusi industri terhadap PDB sangat rendah, artinya menurun drastis," kata Haris di Jakarta, Minggu (14/4). "Tapi sekarang kan masih cukup tinggi. Apalagi industrinya semakin tumbuh dan investasi terus jalan."

Berdasarkan catatan Kemenperin, kontribusi manufaktur pada PDB berada di angka 20 persen. Kondisi ini membuat Indonesia berada di peringkat ke-5 di antara negara G-20.

Tak hanya itu, jika dirata-rata, kontribusi manufaktur dunia saat ini hanya berkisar di angka 17 persen. "Padahal, rata-rata kontribusi sektor manufaktur dunia saat ini hanya sebesar 17 persen," imbuh Haris.

Tak ayal, industri manufaktur selalu menjadi andalan untuk penerimaan negara. Hal inilah yang membuat pemerintah semakin gencar mengupayakan hilirisasi industri.

Haris juga menjelaskan bahwa tingkat investasi di indonesia mengalami peningkatan. Hal ini sangat mendukung kegiatan industri.

Lebih jauh, industri manufaktur yang terus berkembang ikut menyumbang nilai ekspor hingga lebih dari 70 persen. "Selain itu, industri manufaktur konsisten memberikan kontribusi terbesar terhadap nilai ekspor nasional hingga 73 persen," tutur Haris.

You can share this post!

Related Posts
Loading...