Jusuf Kalla Bantah Prabowo Soal RI Alami Deindustrialisasi: Sektor Industri Terus Tumbuh
Nasional

Dalam debat Pilpres terakhir, Prabowo menyatakan bahwa Indonesia mengalami deindustrialisasi, yakni kondisi dimana kontribusi industri terhadap Produk Domestik Bruto sangat rendah.

WowKeren - Agenda debat Pilpres 2019 yang terakhir telah usai dilaksanakan pada Sabtu (13/4) kemarin. Dalam gelaran debat tersebut, Capres nomor urut 02, Prabowo Subianto, menyoroti tingkat kegiatan industri yang ada di Indonesia. Prabowo menilai Indonesia mengalami deindustrialisasi, yakni kondisi dimana kontribusi industri terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sangat rendah.

"Telah terjadi deindustrialisasi," tutur Prabowo di arena debat. "Kalau negara yang lain industrialisasi, kita deindustrialisasi."


Menanggapi hal tersebut, Wakil Presiden Jusuf Kalla lantas memberikan bantahan. Hal ini disampaikan Jusuf Kalla saat membuka acara Indonesia Industrial Summit 2019 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang Selatan, pada Senin (15/4) siang.

"Itu tidak benar," jelas Jusuf Kalla terkait pernyataan Indonesia mengalami deindustrialisasi. Pasalnya, menurut Jusuf Kalla, industri tetap menjadi sektor yang tertinggi dalam produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

"Artinya industri tetap sektor tertinggi dalam pendapatan nasional kita. Artinya industri tetap tetap berkembang dan tidak terjadi deindustrialisasi," tutur Jusuf Kalla. "Memang terjadi penurunan saat krisis 2008 tapi kembali terjadi perbaikan."

Hal ini terbukti dari data yang mencatat bahwa selama 2014-2017, rata-rata industri memiliki kontribusi 21,30 persen terhadap PDB. "Buktinya saat ini sektor industri manufaktur kita menyumbang sekitar 20 persen dari total PDB. Ini artinya industri kita tetap berkembang," jelas Jusuf Kalla.

Sementara itu, Indonesia Industrial Summit 2019 sendiri bertujuan untuk mendorong akselerasi implementasi "Making Indonesia 4.0" pada sektor industri. Jusuf Kalla pun optimis bahwa Indonesia akan semakin maju dalam segi ekonomi melalui industrialisasi.

"Saya percaya kita mampu menjadi 10 besar ekonomi dunia pada tahun 2030," tutur Jusuf Kalla. "Ini sesuai dengan peta jalan Making Indonesia 4.0 yang telah dirancang."

Di sisi lain, bantahan terhadap pernyataan deindustrialisasi Indonesia sendiri juga telah disampaikan oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Sekretaris Jenderal Kemenperin Haris Munandar menuturkan bahwa kontribusi industri di Indonesia masih tinggi. Ditambah dengan investasi yang terus mengalir, hal ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak mengalami seperti apa yang disebutkan oleh Prabowo.

You can share this post!

Related Posts
Loading...