Nilai Tarif Mahal Pesawat Sudah Ideal, Jusuf Kalla: Kalau Maskapai Mati Kita Naik Apa?
Nasional

Jusuf Kalla menilai tarif tiket pesawat yang mahal sudah sesuai dengan harga keekonomian. Menurutnya, apabila tarif pesawat diturunkan lagi, maka maskapai penerbangan bisa-bisa bangkrut.

WowKeren - Tingginya tarif pesawat masih menjadi isu yang kerap diperbincangkan hingga saat ini. Wakil Presiden Jusuf Kalla pun memberikan pandangannya mengenai tarif pesawat tersebut.

Menurut Jusuf Kalla, mahalnya tarif tiket pesawat sebenarnya sudah ideal apabila melihat harga keekonomian. Jusuf Kalla juga menuturkan bahwa apabila tarif tiket pesawat diturunkan lagi, maka maskapai penerbangan bisa-bisa mati alias bangkrut.


Meski demikian, Ketua Dewan Masjid Indonesia tersebut juga yakin bahwa maskapai penerbangan sebenarnya tidak mau menaikkan tarif tiket mereka. Namun seiring dengan meningkatnya harga komponen tarif pesawat, maka kenaikan tersebut pun terpaksa dilakukan.

"Jadi saya yakin perusahaan penerbangan tidak ingin naik, kalau naik lagi penumpang turun, tapi kalau terlalu rendah, bisa mati juga (maskapai penerbangan)," ungkap Jusuf Kalla di Kantor Wakil Presiden pada Selasa (7/5). "Kalau (maskapai penerbangan) mati kita naik apa?"

Selain itu, Jusuf Kalla juga menjelaskan bahwa hampir 70 persen komponen tarif tiket pesawat memang harus diimpor. Salah satu komponen utama yang harus diimpor adalah avtur pesawat alias bahan bakar penerbangan.

Menurut Jusuf Kalla, tarif tiket pesawat yang dulu-dulu justru terlalu murah. Oleh sebab itu, menurut Jusuf Kalla, banyak maskapai penerbangan yang gulung tikar dalam 20 tahun ke belakang.

Kenaikan tarif tiket pesawat ini tak bisa dipungkiri akan berpengaruh pada sektor pariwisata. Meski demikian, seluruh pihak diharapkan dapat memahami hal ini.

"Ya pasti saja ada, ada masalah seperti hotel-hotel. Ada. Tapi kalau mereka tidak hidup bagaimana, jadi harus dipahami juga," ungkap Jusuf Kalla. "Mereka juga tidak disubsidi pemerintah kecuali disubsidi pemerintah seperti beras, bus kota, itu disubsidi pemerintah. Kereta api, commuter. Tapi kalau tidak disubsidi (seperti tiket pesawat) bagaimana?"

Sementara itu, memang terdapat penurunan jumlah penumpang pesawat yang cukup signifikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penumpang pesawat domestik periode Januari-Maret 2019 mengalami penurunan 17,66 persen apabila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

You can share this post!

Related Posts
Loading...