BPN Prabowo Soal Polisi Imbau Tak Ada Aksi Saat 22 Mei: Itu Narasi Tebar Ketakutan
Nasional

Polisi mengimbau agar masyarakat tak turun ke jalan saat KPU mengumumkan hasil Pemilu pada Rabu (22/5) nanti. Sebab ada kekhawatiran yang akan menyerang massa.

WowKeren - Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno ikut menanggapi polisi yang mengimbau agar tidak terjadi aksi saat pengumuman 22 Mei nanti. Pada Rabu (22/5) nanti, Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan mengumumkan hasil Pemilu. Di hari ini dikhawatirkan akan terjadi penyerangan terhadap massa.

Juru Bicara BPN Dahnil Anzar Simanjuntak menilai bahwa imbauan polisi tersebut justru bisa menebar ketakutan di tengah masyarakat. Sebab, cara yang sama pernah digunakan oleh polisi untuk meredam aksi 411 DAN 212. Ia menyebut bahwa imbauan semacam ini tak lebih dari narasi teroris politis yang diulang-ulang.


"Ini narasi menebar ketakutan, dan teror," kata Dahnil dilansir dari Kumparan, Sabtu (18/5). "Hal yang sama juga dilakukan oleh kepolisian ketika aksi 411, 212 dulu. Jadi ini narasi yang berulang-ulang. Narasi teroris politik."

Dahnil heran dengan pernyataan polisi yang dinilainya kontradiktif. "Di satu sisi pemerintah menuduh bahwa aksi-aksi 212 dulu, dan aksi-aksi massa yang tidak percaya dengan pemerintah ditunggangi terorisme, tapi di sisi lain aksi itu akan menjadi target teroris. Lucu memang," lanjut politikus Partai Gerindra tersebut.

Polri mengimbau agar masyarakat tidak turun ke jalan pada 22 Mei mendatang. Hal tersebut lantaran terdapat kekhawatiran akan ada penyerangan massa. Sebab, Densus 88 Antiteror menangkap sejumlah terduga teroris beberapa bulan belakangan ini. Beberapa di antaranya disebut memiliki rencana untuk menyerang saat pengumuman oleh KPU berlangsung.

"(Terduga teroris) merencanakan aksi amaliyah," kata Kadiv Humas Polri Irjen M. Iqbal di Mabes Polri di Jakarta Selatan, Jumat (17/5). "Nah ini ya, melaksanakan aksi amaliyah atau aksi teror dengan menyerang kerumunan massa pada tanggal 22 Mei mendatang dengan menggunakan bom."

Menurut Iqbal, para kelompok tersebut memang sengaja memanfaatkan momentum Pemilu yang merupakan pesta demokrasi. Sehingga para kelompok tersebut diyakini akan menyerang massa sebagai target mereka. "Karena bagi kelompok ini, demokrasi adalah paham yang tidak sealiran dengan mereka. Dan ini (massa) adalah target mereka," jelas Iqbal.

You can share this post!

Related Posts
Loading...