Fadli Zon Ragukan Ancaman Pembunuhan 4 Pejabat Negara: Lebay, Bagaimana Dengan Korban Meninggal?
Nasional

Fadli mengaku tidak yakin dengan kebenaran ancaman tersebut. Menurutnya, ancaman itu hanya untuk mengalihkan isu dan rakyat juga tidak mudah percaya dengan hal-hal semacam ini.

WowKeren - Wakil Ketua DPR Fadli Zon ikut menanggapi ramainya berita yang menyebut bahwa tersangka Aksi 22 Mei menarget empat orang pejabat negara untuk dibunuh. Menurutnya, hal itu sangat berlebihan sebab ia tidak yakin siapa pula yang akan berani berbuat demikian.

Jika memang ancaman tersebut benar, Fadli meminta agar polisi mau menunjuk dengan gamblang siapa yang menargetkannya. Menurutnya, hal ini hanya semacam pengalihan isu saja.


"Saya kok nggak yakin ya. Siapa sih yang mau melakukan itu? Jangan lebay lah gitu," kata Fadli di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (29/5). "Siapa? Tunjuk dong orangnya. Polisi itu gampang kok mendeteksi orang mau menarget dan orang kalau menarget nggak akan bilang-bilang. Jangan mengalihkan isu."

Ia kemudian kembali menyinggung ancaman-ancaman yang pernah ditujukan kepadanya. "Justru yang mengancam-ancam pihak lain ya saya, termasuk pernah diancam di Twitter, di beberapa tempat, di WA ada, di SMS ada, saya bisa tunjukkan ancaman-ancaman itu. Itu tidak apa-apa," ujar Fadli.

Oleh sebab itu, ia meminta agar polisi segera menyudahi narasi semacam itu. Sebab menurutnya, rakyat sudah tidak lagi percaya dengan hal-hal demikian. Sebaliknya, ia menyinggung korban meninggal pada Aksi 22 Mei. Ia mempertanyakan tanggung jawab negara terkait delapan orang yang meninggal terkait aksi tersebut.

"Berlebihan, kayak ada apa-apa aja. Sudahlah narasi-narasi seperti itu rakyat tidak percaya," lanjut Fadli. "Yang sekarang harus diprioritaskan itu bagaimana yang meninggal? Delapan orang itu apa tanggung jawab negara terhadap 8 orang yang meninggal itu, atau lebih dari 8 orang karena ada yang di Pontianak."

Sementara itu, Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengungkapkan alasan atau motif para tersangka yang diinstruksikan untuk membunuh empat pejabat negara. Selain desakan kondisi ekonomi, para tersangka tersebut juga dianggap mumpuni untuk mengeksekusi rencana itu.

"Kalau yang enam orang, motifnya motif ekonomi," kata Dedi dilansir dari Detik, Rabu (29/5). "Dan mereka dianggap mampu oleh aktor intelektualnya. Mereka kan suruhan."

You can share this post!

Related Posts
Loading...