Dosen Universitas Cendrawasih Jayapura Persilakan Mahasiswanya Pakai Koteka Saat Kuliah
Nasional

Dosen Antropologi Universitas Cendrawasih Jayapura, Hari Suroto, prihatin melihat turunnya pemakaian baju adat koteka. Oleh sebab itu, ia mengizinkan mahasiswanya menggunakan koteka di kelas.

WowKeren - Dosen Antropologi Universitas Cendrawasih Jayapura, Hari Suroto, mengaku prihatin melihat menurunnya pemakaian koteka oleh warga di Lembah Baliem atau Wamena, Ibu Kota Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua. Hari mengaku kini koteka hanya dikenakan oleh para generasi tua saja, sementara generasi muda sudah jarang menggunakan busana adat tersebut.

"Iya, hanya generasi tua dari Suku Dani saja yang mengenakan koteka. Itu pun hanya di kampung-kampung yang jauh dari kota," ungkap Hari dilansir Tempo pada Senin (15/7). "Generasi muda Suku Dani sudah tidak atau jarang mengenakan koteka lagi."


Menurut dosen yang juga merupakan peneliti Balai Arkeologi Papua tersebut, koteka kini kebanyakan hanya dipakai dalam acara Festival Budaya Lembah Baliem saja. Oleh sebab itu, demi mempertahankan budaya tersebut, Hari pun mempersilakan mahasiswanya untuk mengenakan koteka dalam kelas perkuliahan.

"Dan salah satu cara mempertahankannya adalah dengan mengenakannya setiap hari atau dalam acara adat atau jika ada siswa atau mahasiswa masuk ruang kelas bisa berkoteka," terang Hari. "Sebagai dosen saya memperbolehkannya, bagi saya koteka itu sama halnya dengan batik."

Hari lantas menjelaskan bahwa tradisi berkoteka dapat dijadikan sebagai studi komparatif tentang pakaian pada masa pra-sejarah di pegunungan Papua. Oleh sebab itu, tradisi tersebut perlu dilestarikan.

"Sehingga penggunaan koteka dan pohon labu perlu dilestarikan," jelas Hari. "Untuk itu koteka perlu diusulkan sebagai warisan dunia UNESCO."

Beberapa waktu lalu, mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Cendrawasih Jayapura yang bernama Devio Basten Tekege sempat mengikuti perkuliahan dengan mengenakan koteka. Devio mengaku tak merasa malu ataupun canggung.

"Ada seorang dosen yang menawarkan diri untuk berfoto," tutur Devio dilansir Tempo. "Tetapi saya menolak."

Devio mengaku bahwa dirinya mengenakan koteka murni untuk mengharagai budaya. "Bapak minta maaf saya ke kampus bukan fashion show," tutur Devio kala menolak ajakan foto dosen tersebut.

Devio mengaku pilihannya untuk mengenakan koteka mengundang perhatian banyak orang, baik dari kalangan mahasiswa maupun dosen. Namun ia menolak difoto untuk dipamerkan ke media sosial.

"Ini rencana untuk melestarikan budaya orang Papua. Jadi koteka itu bisa dipakai kapan saja atau di mana saja," ungkap Devio. "Jadi bukan saat acara-acara tertentu, tempat-tempat tertentu atau pada saat ada kegiatan."

You can share this post!

Related Posts
Loading...