Valuasi Go-Jek 14 Kali Lipat Lebih Besar Dari Kapitalisasi Pasar Garuda Indonesia, Ini Alasannya
Nasional

Guru Besar Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, menjelaskan mengapa valuasi Go-Jek yang tak memiliki satu pun motor bisa lebih besar dibanding Garuda yang memiliki 142 pesawat.

WowKeren - Menurut data CB Insight, sejumlah investor telah menyuntikkan dana kepada perusahaan Go-Jek hingga mampu menyandang status decacorn. Status ini diberikan bagi perusahaan yang bervaluasi USD 10 miliar atau setara dengan Rp 142 triliun.

Ini artinya, valuasi Go-Jek 14 kali lipat lebih besar dari kapitalisasi pasar maskapai Garuda Indonesia yang berada di angka Rp 11,07 triliun. Padahal, Garuda memiliki 142 pesawat dan aset senilai USD 4,5 miliar, sedangkan Go-Jek tidak memiliki satu pun motor untuk mengoperasikan bisnis mereka.


Alasan valuasi Go-Jek lebih besar dari Garuda Indonesia pun dijabarkan oleh akademisi dan Guru Besar Universitas Indonesia, Rhenald Kasali. Menurut Rhenald, valuasi Go-Jek lebih besar karena analisis bisnis di era digital sudah berubah.

Kini, aset tak lagi tangible atau berwujud nyata seperti yang dimiliki Garuda Indonesia. Ada aset intangible yang tak bisa diukur dan dicatat pada balance sheet seperti yang dimiliki oleh Go-Jek.

"Go-Jek tak punya satu pun motor, tapi valuasinya melebihi Garuda. Apa asetnya?" jelas Rhenald dilansir Kompas.com pada Rabu (14/8). "Intangible, bentuknya seperti brand, skill, inovasi, dan keterampilan yang akhirnya menciptakan platform berbasis ekosistem."

Aset intangible sendiri merupakan aset yang tak bisa dijamin perbankan, namun melekat pada diri pelaku usaha, yakni keterampilan, inovasi, ide, dan lain sebagainya. Aset ini justru digunakan pada bisnis di era digital.

"Hal inilah yang menyebabkan teori bisnis lama menjadi usang," terang Rhenald. "Dan model bisnis tak lagi relevan di era digital."

Tak hanya itu, Go-Jek juga dinilai lebih tinggi karena memiliki nilai network effect yang lebih besar dibanding perusahaan konvensional yang berdiri sendiri. Hal ini dapat dilihat dari jejaring aplikasinya yang dapat menyatukan ekosistem pemilik warung, pengemudi, restoran, dan lain-lain.

"Memang benar, platform tidak untung dan bakar duit terus. Ada yang menuding valuasinya manipulatif. Pokoknya platform ini dihadang terus sama perusahaan yang stand alone. Tapi mereka (platform) efeknya banyak, melibatkan UKM, membuka lapangan kerja. Lihat berapa banyak yang terbantu," pungkas Rhenald. "Ini yang dibilang Presiden Joko Widodo, gunakan cara-cara baru dalam berbisnis."

You can share this post!

Related Posts
Loading...