Kisah Penumpang Difabel Dipaksa Turun Dari Wings Air Gara-Gara Tak Teken Surat Sakit
Nasional

Penumpang difabel bernama Shinta Utami tersebut tak mau meneken surat itu karena dirinya tidaklah sakit, melainkan penyandang disabilitas yang membutuhkan bantuan.

WowKeren - Seorang penyandang disabilitas alias difabel mengalami kejadian tak menyenangkan kala akan melakukan penerbangan dari Labuan Bajo ke Denpasar pada Kamis (22/8). Wanita bernama Shinta Utami tersebut awalnya hendak terbang menggunakan Wings Air dengan nomor penerbangan IW 1899 bersama ketiga temannya.

Kejadian tak menyenangkan tersebut bermula kala Shinta melakukan proses check-in. Petugas meminta Shinta mengisi dan menandatangani surat pernyataan sakit. Surat tersebut menyatakan bahwa maskapai tak bertanggung jawab apabila sesuatu terjadi pada penumpang yang bertandatangan. Padahal, surat itu tidak tertulis ditujukan untuk penumpang difabel.


Shinta juga mengaku mendapat diskriminasi dari petugas karena menyebutnya sakit. Padahal Shinta merupakan penyandang disabilitas yang membutuhkan bantuan.

"Di konter setelah dimintai identitas petugas menyodorkan surat pernyataan untuk ditandatangani, saya bilang saya tidak mau menandatangani karena saya penyandang disabilitas bukan sakit. Petugas mengatakan kalau tidak sakit silakan jalan," terang Shinta dilansir Kumparan pada Jumat (23/8). "Penyandang disabilitas harusnya sudah tidak boleh tanda tangan surat itu lagi. Karena ada klausa yang menyatakan jika terjadi apa-apa maka maskapai tidak bertanggung jawab."

Setelah itu, Shinta dan rombongan akhirnya dipersilakan untuk menuju ke ruang tunggu tanpa kejelasan. Namun, petugas maskapai kembali memaksa Shinta untuk menandatangani surat pernyataan kala akan boarding.

"Salah satu petugas bahkan mengatakan kalau saya tidak terlihat seperti penyandang disabilitas karena tidak ada kekurangan apapun pada anggota badan saya," ungkap Shinta. "Di situ saya merasa tersinggung dan salah satu petugas menengahi dan mengajak saya naik ke atas pesawat karena pesawat sudah akan berangkat."

Shinta yang berhasil naik ke pesawat kembali diminta menandatangani surat pernyataan oleh pramugari. Ia pun akhirnya dipaksa turun hingga gagal terbang karena kukuh tak mau meneken surat tersebut.

"Karena saya tetap tidak mau menandatangani saya akhirnya dipaksa dan didorong keluar dari pesawat," tutur Shinta. "Salah satu teman saya juga di dorong-dorong oleh petugas. Akhirnya ketika melihat saya didorong keluar pesawat, ketiga teman saya ikut keluar pesawat."

Kala kembali ke bandara, Shinta dan rombongannya tak mendapat informasi yang jelas dari petugas, termasuk biaya refund. "Saya bertanya pada airlines lainnya, NAM Air dan Garuda, dan mereka tidak punya kebijakan ini. Saya dan ketiga teman saya terlantar di Bandara Labuan Bajo dan akhirnya harus membeli tiket baru. Menandatangani surat pernyataan itu diskriminasi karena penyandang disabilitas bukan sakit tapi disabilitas," ujarnya

Akhirnya, Shinta pun harus membeli tiket pesawat baru. Ia dan rombongannya akhirnya memilih penerbangan NAM Air.

Kala menggunakan pesawat NAM Air, Shinta mengaku mau mengisi surat pernyataan penumpang difabel. Pasalnya, surat pernyataan yang diberikan NAM Air tidak menyebut bahwa maskapai lepas tanggung jawab apabila sesuatu terjadi pada penumpang penyandang disabilitas.

You can share this post!

Related Posts
Loading...