Demo Terus Berkecamuk, Kepala Staf Kepresidenan Duga Benny Wenda Dalangi Kerusuhan Papua
Nasional
Demo Rasisme Papua

Demo yang masih terus berkecamuk, Kepala Staf Kepresidenan Indonesia memberikan dugaan pribadinya terkait siapa pihak yang mendalangi kerusuhan di Papua.

WowKeren - Aksi demo dan kerusuhan yang masih terus berkecamuk di Papua membuat pihak istana yaitu Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko ikut angkat berbicara. Moeldoko mengungkapkan siapa yang menjadi dalang di balik kerusuhan yang terus mencekam Papua ini.

Moeldoko menuding Ketua Persatuan Gerakan Pembebasan untuk Papua Barat (ULMWP) Benny Wenda yang menjadi pimpinan dalam menggalang dukungan asing terkait mulai munculnya kembali isu kemerdekaan Papua. Lebih lanjut ia berpendapat bahwa Benny menjadi aktor di sejumlah kerusuhan di Papua dan melakukan sejumlah mobilisasi diplomatik ke sejumlah negara.

"Ya jelas toh. Jelas Benny Wenda itu (yang pimpin)," kata Moeldoko saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta pada Senin (2/9). "Dia mobilisasi diplomatik (untuk mendukung Papua merdeka), mobilisasi informasi yang missed, yang enggak benar. Itu yang dia lakukan di Australia, di Inggris."


Mantan Panglima TNI tersebut menyatakan jika langkah yang diambil Benny tersebut merupakan gerakan politik sehingga pemerintah tidak memiliki kuasa untuk merespon dengan menggunakan pendekatan militer. Ia mengatakan jika sosok Benny ini ibarat kelompok politik yang sedang mengkampanyekan Papua merdeka.

"Ini persoalan politik harus diatasi dengan pendekatan politik, enggak bisa dengan pendekatan militer," lanjut Moeldoko. "Ini juga lebih politik karena dia bergerak di front politik. Itulah seperti diplomasi. Pastilah dilakukan."

Benny sendiri merupakan ketua dari organisasi United Liberation Movement for West Papua yang berfokus menggalang dana bagi kemerdekaan Papua. Ia pernah terlibat dalam sejumlah kasus seperti mengajak massa untuk melakukan penyerangan di sejumlah tempat di Papua pada tahun 2000. Benny akhirnya ditangkap hingga dijebloskan ke penjara pada 6 Juni 2002 di Jayapura atas tuduhan tersebut walaupun akhirnya ia dapat meloloskan diri dari penjara.

Sebelumnya Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menyebut adanya keterlibatan pihak asing terutama organisasi luar negeri dengan sekelompok masyarakat dalam aksi anarkis yang terjadi di Papua dan Papua Barat. "Ada. Kita sama-sama tahu dari kelompok-kelompok ini ada hubungannya dengan network di Internasional," kata Tito Karnavian pada Minggu (1/9).

(wk/wahy)

You can share this post!

Related Posts