Ignasius Jonan Perkirakan Realisasi Subsidi Energi 2019 di Bawah Target
Nasional

Menteri ESDM, Ignasius Jonan memperkirakan jika realisasi subsidi energi pada tahun 2019 akan berada di bawah target. Karena menurut perhitungannya, anggaran yang terpakai hanya terpakai Rp 130 triliun dari total seluruhnya.

WowKeren - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan memperkirakan bahwa realisasi subsidi energi di tahun 019 akan berada di bawah target. Menurutnya, anggaran yang terpakai hanya sekitar Rp 130 triliun dari total Rp 160 triliun subsidi energi yang dianggarkan.

"Subsidi tahun 2019 ini targetnya Rp 160 triliun, tapi saya kira enggak akan sampai," terang Jonan dalam keterangannya, Senin (2/9). "Paling di angka Rp 120 triliun sampai Rp130 triliun karena harga komoditas energi banyak yang turun juga. Hingga semester I tahun ini angkanya sebesar Rp 59,4 triliun."

Jonan meyakini jika angka subsidi pada semester I sebesar Rp 59,4 triliun akan tetap terjadi pada semester II. Ia kemudian menjelaskan realisasi di bawah target itu dimungkinkan karena adanya penurunan harga komoditas. Salah satunya harga minyak mentah atau Indonesia Crude Price (ICP).

Berdasarkan data Kementerian ESDM, harga ICP memang mengalami penurunan dari USD 68 per barel pada Mei 2019 menjadi USD 61 dan USD 61.32 per Juni-Juli 2019. Sayangnya, faktor lain seperti kurs rupiah terhadap dolar, masih bertahan di angka cukup tinggi yaitu Rp 14.200-14.300 per dolar AS.


Selain angkanya yang terus ditekan, saat ini penyaluran subsidi sudah lebih tepat sasaran bagi mereka yang kurang mampu saja. Akurasi penyaluran itu juga ditunjukkan dari jumlah subsidi dari 4 tahun terakhir sudah berkurang signifikan.

"Subsidi, yang selalu orang ramai bicara ini. Dibandingkan periode sebelumnya, sekarang empat tahun terakhir (2015-2018) subsidi sektor energi dipangkas menjadi hanya Rp477 triliun," jelas Jonan. "Ini kurang lebih hanya sepertiga dari yang sebelumnya. Agar lebih tepat sasaran."

Untuk realisasi subsidi energi memang diperkirakan tidak melebihi target. Namun, hal tersebut kemungkinan tidak berlaku untuk subsidi solar.

Menurut Badan Pengatur Hilir (BPH) Migas ada kelebihan kuota penyaluran solar. Hingga akhir tahun 2019, diperkirakan realisasi volume penyaluran BBM bersubsidi ini diprediksi membengkak menjadi 15,31-15,94 juta kilo liter (kl) dari semula hanya 14,5 juta kl sesuai APBN 2019.

“Kami memprediksi ada overquota BBM bersubsidi untuk solar. Potensinya kelebihan 0,8-1,4 juta KL (5,5-9,6 persen)," ucap Kepala BPH Migas, Fanshurullah Asa dalam konferensi pers di kantor BPH Migas pada Rabu (21/8) lalu.

(wk/wahy)

You can share this post!

Related Posts