Ini Sikap IPB Soal Dosennya yang Tertangkap Buat Bom Molotov
Nasional

Sebelumnya, tim Densus 88 telah mengamankan seorang dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) bersama 5 orang lainnya yang diduga akan memancing aksi kerusuhan dengan menggunakan bahan peledak.

WowKeren - Tim Densus 88 Polda Metro Jaya diketahui telah mengamankan seorang dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) bersama 5 orang lainnya yang diduga akan memancing aksi kerusuhan dengan menggunakan bahan peledak. Keenamnya diamankan di Cipondoh, Kota Tangerang pada Sabtu (28/9).

Menanggapi kasus yang menjerat salah satu dosennya tersebut, IPB pun mengeluarkan sikap resmi. Pihak kampus menyerahkan kasus ini sepenuhnya kepada prosedur hukum.

Kepala Biro Humas IPB University, Yatri Indah Kusumastuti, menyatakan bahwa pihak kampus telah memiliki aturan jelas tentang norma dan etika dosen. Selain itu, sudah ada ketentuan bagi pihak yang melanggarnya.

"IPB menghormati proses hukum yang berlaku dan akan menunggu kepastian hukum bagi Sdr. Abdul Basith," tutur Yatri dalam siaran pers dilansir Kumparan pada Selasa (1/10). "IPB berharap proses hukum tersebut berjalan transparan, akuntabel dan adil."


Tak hanya itu, IPB juga menyatakan akan terus senantiasa berkomitmen untuk menjaga amanat sebagai lembaga pendidikan tinggi di Indonesia. "IPB berkomitmen untuk menjaga keutuhan bangsa dan menentang segala aksi kekerasan yang merusak sendi-sendi persatuan dan kesatuan bangsa dengan tujuan dan alasan apa pun," lanjut Yatri.

Di sisi lain, dosen yang diamankan oleh Tim Densus 88 tersebut diduga menginisiasi sekaligus menggerakkan pembuatan bom molotov massal untuk Aksi "Mujahid 212 Selamatkan NKRI" pada Sabtu (28/9). Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia (UI), Al Chaidar, lantas menyampaikan dugaan motivasi di balik aksi sang dosen.

Menurut Al Chaidar, dosen tersebut ingin membuat kekacauan lantaran kecewa atas berbagai masalah yang terjadi di Indonesia. Namun ia menilai bahwa kemarahan AB ini tak bisa tersalurkan lewat jaringan teroris. Alhasil AB pun nekat bergerak sendiri.

"Tapi belum masuk dalam radar peneliti terorisme. Mungkin karena kecewa dan marah atas bertubi-tubinya masalah krisis yang tak teratasi di negeri ini. Ini semacam ekspresi yang oleh Pankaj Mishra disebut sebagai 'age of anger' atau zaman kemarahan," kata Chaidar, Selasa (1/10). "Dia ingin memberontak dengan cara-cara yang penuh amarah. Namun tak terakomodasikan dalam jaringan perlawanan kaum teroris, lalu dia bergerak sendiri."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts