BNPB Sebut Titik Panas Karhutla Kembali Meningkat
Nasional
Darurat Kabut Asap Kalimantan

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan jika titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengalami peningkatan di sejumlah wilayah.

WowKeren - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan jika titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengalami peningkatan. Kenaikan jumlah hotspot dari karhutla ini dilaporkan telah terjadi di sejumlah wilayah.

Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat (Kapusdatin) BNPB Agus Wibowo menjelaskan jika data terkait kenaikan titik panas ini telah diterima sejak pukul 09.00 WIB pada Senin (7/10). Sejumlah wilayah yang mengalami peningkatan titik panas ini terletak di Provinsi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Menurut penjelasan Agus, titik panas terbanyak dari karhutla ditemukan di Kalimantan Tengah sebanyak 123 hotspot. Sementara itu untuk Provinsi Riau tercatat sebanyak 34 titik panas, Jambi 67, Sumatera Selatan 87, Kalimantan Barat 2, dan di Kalimantan Selatan 36.

Padahal sebelumnya, jumlah titik panas di Provinsi Riau sudah menghilang sejak Jumat (5/10) lalu. Sementara itu kenaikan hotspot yang terjadi di Jambi, Kalteng, dan Kalsel telah terpantau sejak 4 September lalu.


"Berdasarkan data yang kami peroleh pukul 09.00 WIB tadi, jumlahnya mengalami kenaikan," kata Agus Wibowo pada Senin (7/10). "Jadi Provinsi Riau, Jambi, Kalteng dan Kalsel itu hotspot-nya naik dan hanya Sumatera Selatan yang naik turun karena kondisinya masih kering."

Kenaikan titik panas tersebut disebutkan akibat curah hujan yang belum turun secara merata. Agus juga mengatakan jika peningkatan titik api juga masih dipengaruhi oleh sejumlah pihak yang masih dengan sengaja melakukan pembakaran lahan di kawasan tersebut.

Kondisi ini membuat BNPB menyatakan jika Riau dan Kalteng masih dalam status tanggap darurat karhutla. "Sedangkan Provinsi Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat itu berstatus siaga darurat hingga 31 Oktober kecuali Kalimantan Barat hingga Desember 2019," kata Agus Wibowo.

BNPB juga akan terus melakukan berbagai upaya untuk memadamkan karhutla dengan menyewa helikopter untuk melakukan operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) atau menurunkan hujan buatan. BNPB juga telah menerjunkan 1.500 personel gabungan yang terdiri dari unsur TNI/Polri serta kelompok masyarakat di setiap provinsi terdampak karhutla sepanjang tahun 2019.

(wk/wahy)

You can share this post!

Related Posts