Aliran Sesat di Kaltim Bikin Resah, Bukan Suami-Istri Boleh Pelukan
Nasional

Kelompok warga ini mengatasnamakan diri sebagai Majelis Rasulullah Assabatu Sahabah. Beberapa kegiatan yang mereka lakukan dianggap menyimpang dari kaidah Islam yang selama ini dianut warga setempat.

WowKeren - Indonesia dikenal dengan beraneka ragam kebudayaan. Namun tak jarang di antaranya menyebabkan timbulnya "aliran sesat" yang dianggap menyalahi kaidah agama tertentu.

Seperti yang dialami oleh warga di Jalan Otto Iskandar Dinata, khususnya di sekitaran Gunung Manggah, Sungai Dama, Kecamatan Samarinda Ilir, Kalimantan Timur berikut ini. Warga di daerah tersebut harus memendam keresahan lantaran ada sekelompok massa yang diduga mengikuti aliran sesat.


Kegiatan mereka dinilai bertentangan dengan kaidah Islam yang dipercaya warga selama ini. Kelompok tersebut menamakan diri mereka sebagai Majelis Rasulullah Assabatu Sahabah.

Lantas, perilaku apa yang membuat resah? Disampaikan oleh Fahrul Hadi, salah satu warga setempat, kelompok masyarakat tersebut diketahui kerap melakukan kegiatan pada jam yang tidak lazim. Menurutnya mereka kerap menggelar acara dari pukul 22.00 sampai 04.00 WITA.

Tak hanya itu, oknum yang diduga mengikuti aliran sesat ini sering terlihat berdua dengan pasangan tidak resminya. Yang lebih membuat resah, aliran sesat ini disebut telah diikuti oleh puluhan orang.

"Memang mereka itu berbeda dengan kami. Mereka juga tidak mau bersosialisasi," ujar Fahrul kepada media setempat, dilansir oleh Jawa Pos, Rabu (9/10). "Memang kalau nabi dan Tuhannya sama, cuma ada hal yang dilarang agama namun mereka lakukan. Itu yang membuat kami resah."

Pengakuan serupa juga disampaikan oleh Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Sungai Dama, Awalludin. Menurutnya ada beberapa tindakan tak pantas yang dilakukan oleh oknum pengikut aliran sesat tersebut.

“Kalau saya lihat memang ada yang aneh, bukan suami-istri pelukan di jalan pas naik motor," ungkapnya. "Apalagi itu istrinya orang. Kan sudah nggak wajar. Islam mana yang memperbolehkan hal itu."

Menanggapi hal tersebut, Lurah Sungai Dama, La Uje mengaku telah melakukan mediasi antara warga dengan kelompok tersebut. Menurutnya warga setempat meminta agar kelompok itu angkat kaki dari daerah Sungai Dama.

Pihaknya pun telah melaporkan kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI), namun belum ada keterangan resmi. La Uje lantas berjanji akan tetap mengawasi aliran tersebut bersama aparat setempat.

You can share this post!

Related Posts
Loading...