Begini Pandangan Rocky Gerung Soal Bersatunya Jokowi dan Prabowo
Nasional

Akademisi Rocky Gerung menyebut bahwa keputusan Prabowo Subianto untuk bergabung ke Istana memang sudah bisa diprediksi sehingga tidak menarik lagi untuk dianalisis.

WowKeren - Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mengaku diminta Presiden Joko Widodo untuk memperkuat kabinet di bidang pertahanan. Prabowo juga mengaku akan bekerja keras demi mencapai sasaran yang telah ditentukan oleh pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin.

Akademisi Rocky Gerung lantas menanggapi hal tersebut. Menurut Rocky, masyarakat dari kubu Jokowi dan Prabowo belum tentu bisa langsung bersatu. Awalnya, Rocky menyebut bahwa keputusan Prabowo bergabung ke Istana memang sudah bisa diprediksi sehingga tidak menarik lagi untuk dianalisis.


"Seluruh yang ada di media massa hari ini, apapun beritanya tentang Istana, itu hanya menarik sebagai berita, bukan lagi menimbulkan sensasi untuk dianalisis," ujar Rocky dilansir detikcom pada Senin (21/10). "Prabowo masuk Istana, itu berita karena dari awal memang dikondisikan begitu kan, apa gunanya dianalisis? Kalau Prabowo memutuskan untuk tidak, nah itu baru jadi analisis. Kan begitu."

Rocky menilai situasi politik baru bisa dianalisis apabila sejumlah parpol berubah pikiran. Contohnya apabila NasDem tiba-tiba memutuskan untuk menjadi oposisi.

"Jadi misalnya kalau Prabowo bilang, 'Oke demi bangsa maka kami memutuskan untuk konsisten berada di luar kabinet', itu baru bisa dianalisis kenapa berubah pikiran, kan itu," tutur Rocky. "Atau NasDem, 'Ternyata sesuai dengan dugaan kami seluruh partai masuk ke kabinet sehingga tidak ada lagi di parlemen beroposisi. Menurut kami NasDem bersama-sama dengan PKS untuk beroposisi', nah itu baru bisa dianalisis."

Rocky menilai bahwa ada kesalahan berpikir belakangan ini. Kesalahan berpikir tersebut yang dimaksud terkait dengan anggapan persatuan.

"Jadi yang terjadi hari ini adalah koalisi seolah-olah ingin Indonesia bersatu maka semuanya masuk Istana," jelas Rocky. "Indonesia itu bersatu kalau ada yang mengawasi Istana, bukan sama-sama masuk Istana. Itu ngaconya cara berpikir itu."

Keputusan Prabowo untuk bergabung ke Istana dinilai Rocky hanya untuk menyatukan elite-elite. Namun, perpecahan di akar rumput tetap akan ada karena menurutnya masyarakat ingin ada kontrol terhadap pemerintah, bukannya penggabungan ke penguasa.

"Yang bersatu siapa? Ya elitenya yang bersatu. Bangsanya selesai enggak pecah belahnya? Ya makin terjadi. Karena apa? Bangsa berharap ada yang di luar kan, rakyat berharap ada yang di luar," terang Rocky. "Ternyata semua masuk ke dalam maka bangsa ini justru tidak akan bersatu, justru akan makin terpecah karena tidak ada yang mengucapkan kepentingan alternatif dari rakyat. Kan itu yang terjadi."

Rocky menilai bahwa salah apabila persatuan yang dianggap erat hanya karena Prabowo memutuskan untuk bergabung dengan Jokowi. Ada rakyat, tutur Rocky, yang tetap berharap Prabowo menjadi oposisi.

"Ini salah kalau dianggap setelah Prabowo masuk ke Istana maka persatuan sudah erat kembali. Ya justru makin jauh karena rakyat tidak menghendaki masuk Istana. Biasa aja, kan rakyat menghendaki Prabowo di luar, itu justru normal supaya terjadi keseimbangan antara yang berkuasa dan tidak berkuasa," pungkas Rocky. "Jadi kekacauan itu yang mesti dianalisis oleh pers, bukan sekadar memberitakan, 'Oh berarti akan terjadi persahabatan baru'. Ya persahabatan antara menteri kabinet, tapi rakyat tetap tidak bersahabat."

You can share this post!

Related Posts
Loading...