Hobi 'Ganggu' Menteri Hingga Dini Hari, Jokowi: Kalau Tidur ya Suruh Bangunin Ajudan
Nasional

Presiden Jokowi mengaku kerap membuka catatannya pada malam hari. Mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut lantas tak ragu untuk 'mengganggu' para Menterinya apabila ada yang tidak beres.

WowKeren - Presiden Joko Widodo mengaku sering "mengganggu" para Menterinya hingga dini hari. "Gangguan" yang dimaksud Jokowi adalah telepon kepada sang Menteri apabila ada urusan darurat.

"Jam malam kalau telepon tidak pasti," ungkap Jokowi dilansir CNN Indonesia pada Kamis (14/11). "Bisa jam 22.00 WIB, 01.30 WIB, dan 02.30 WIB."


Presiden Jokowi mengaku kerap membuka catatannya pada malam hari. Mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut lantas tak ragu untuk menghubungi para Menterinya apabila ada yang tidak beres.

Apabila "pembantu" di kabinetnya tidak mengangkat telepon kala dihubungi, Jokowi tak segan-segan meminta bantuan ajudannya untuk menghubungi ajudan Menteri tersebut. Jokowi menilai bahwa kebiasannya ini merupakan hal yang wajar.

"Kalau tidak bangun ya suruh bangunin ajudannya," jelas Jokowi. "Ya (Menteri) memang harus diganggu."

Selain itu, kegiatan membuka catatan pada malam hari juga membuat Jokowi hanya memiliki waktu yang terbatas untuk tidur. Untuk mengkompensasi hal ini, sang Presiden biasanya akan beristirahat dalam perjalanan dinas.

"Saya sering tidur di mobil dari Jakarta ke Bogor. Di pesawat saya tidur 30 menit," ujar Jokowi. "Di helikopter saya tidur 30 menit. Kalau malamnya memang lebih sedikit."

Mantan Wali Kota Solo ini juga mengakui bahwa jabatannya sebagai kepala negara seringkali membuat pusing. Meski demikian, Jokowi mengaku tetap berusaha untuk menikmatinya. "(Memang enak jadi presiden?) Enak. Enak pusingnya," pungkas Jokowi.

Di sisi lain, survei yang dilakukan LSI Denny JA mengungkapkan bahwa kepercayaan publik terhadap Jokowi telah menurun pasca Pilpres 2019. Menurut peneliti senior LSI Denny JA, Adjie, salah satu penyebab melorotnya angka tersebut adalah polarisasi politik selama Pemilu 2019.

"Kalau kami lihat faktornya banyak, tapi yang paling kuat pembelahan politik tadi," ungkap Adji di kawasan Jakarta Pusat pada Rabu (13/11). "Potret kami pada Juli 2018 itu kan belum kontestasi, tapi di survei September 2019, mereka yang secara pilihan politik berbeda dengan Pak Jokowi, cenderung bertahan pada sikapnya."

You can share this post!

Related Posts
Loading...