Digaji 51 Juta Tiap Bulannya, Ini Kata Stafus Milenial Jokowi
Instagram/kemensetneg.ri
Nasional
Kontroversi Staf Milenial Jokowi

Stafus Milenial Presiden Joko Widodo diketahui menerima gaji sebesar 51 Juta hingga menjadi pro kontra lantaran mereka hanya berkantor beberapa kali dalam seminggu. Salah satu stafus milenial Aminuddin Ma'ruf pun menanggapinya.

WowKeren - Pekan lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkenalkan tujuh staf khusus (stafus milenial) yang berasal dari berbagai latar belakang. Mereka bertugas sebagai teman diskusi presiden untuk menemukan beberapa gagasan mengenai kebijakan yang akan dilakukan oleh pemerintah.

Pengangkatan stafus milenial ini sempat menjadi kontroversi lantaran mereka tidak berkantor secara full time di Istana, namun menerima gaji yang dinilai fantastis dalam sebulan, yakni sebanyak Rp 51 Juta. Oleh karena itu, banyak dari politisi yang mengkritik pengangkatan stafus presiden ini.

Menanggapi hal tersebut, salah satu stafus milenial Jokowi, yakni Aminuddin Ma'ruf menegaskan bahwa ia tidak pernah berpikir soal gaji yang akan diterimanya ketika ditawari untuk membantu presiden. Dirinya juga meyakini bahwa enam rekannya yang lain memiliki sikap yang sama.

"Saya tidak pernah mempersoalkan gaji," tutur Aminuddin. "Kami waktu ditawari menjadi staf khusus, tidak pernah ada pertanyaan berapa gajinya," tuturnya yang dilansir Kompas pada Jumat (29/11).

Aturan mengenai gaji stafus ini sendiri tercantum dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 144 Tahun 2015. Berdasarkan peraturan yang diterbitkan Jokowi pada 2015 itu, gaji stafus presiden sebesar Rp 51 juta. Gaji tersebut merupakan pendapatan keseluruhan dan sudah termasuk gaji pokok, tunjangan kinerja, dan tunjangan pajak penghasilan.


Sejumlah pihak menilai gaji tersebut terlalu besar bagi stafus milenial Jokowi yang relatif masih berusia muda dan tak bekerja penuh waktu. Namun, Aminuddin menegaskan bahwa ia dan rekan-rekannya mau menerima tugas tersebut bukan karena mengincar gaji dengan total puluhan juta itu.

Menurut Aminuddin, para stafus milenial ini sudah memiliki penghasilan yang cukup tinggi sehingga persoalan gaji bukanlah menjadi pertimbangan mereka. Hal ini karena sebelum bergabung menjadi stafus presiden pun, mereka telah memiliki usaha dan pekerjaan masing-masing yang penghasilannya bisa dibilang cukup besar.

"Karena bagi kami yang bertujuh ini urusan dapur itu sudah selesai," tuturnya kepada wartawan. "Kami punya usaha kegiatan dan aktivitas yang sehari-harinya mungkin (gajinya) jauh lebih dari itu."

Aminuddin kemudian mencontohkan salah satu rekannya Billy Mambrasar. Menurutnya, pria asal Papua peraih beasiswa di Oxford University itu pernah bekerja di perusahaan minyak dan gas dengan gaji yang jauh lebih besar.

"Kalau dia hanya berpikir terhadap dirinya sendiri, dia sudah selesai," ujarnya. "Dia sudah bekerja di perusahaan migas yang jauh lebih tinggi gajinya dibanding staf khusus," kata Aminuddin. Ia kemudian menegaskan bahwa pekerjaan sebagai staf khusus presiden adalah sebuah panggilan untuk mengabdi kepada negara. Selain itu, meski tak berkantor setiap hari, ia mengatakan bahwa stafus presiden bekerja selama 1x24 jam.

"Kenyataannya kami bekerja 1x24 jam sehari, tujuh hari dalam satu minggu, tidak terbatas dengan ruang dan waktu," kata Mantan Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) itu. "Kapan pun kami diminta, kami harus siap."

(wk/wahy)

You can share this post!

Related Posts