Pemakzulan atau pencopotan Donald Trump dari jabatannya sebagai Presiden AS semakin mendekati kenyataan. Pasalnya parlemen akan menggelar voting soal itu pada Rabu (18/12) waktu setempat.
- Elvariza Opita
- Rabu, 18 Desember 2019 - 14:50 WIB
WowKeren - Kekuasaan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sedang terancam. Pasalnya anggota parlemen tengah berusaha memakzulkan Trump dari jabatannya usai rekaman sang presiden "menekan" pimpinan Ukraina, Volodymyr Zelensky terungkap.
Proses persidangan di kalangan parlemen pun hampir menemui titik akhir. Hasilnya anggota parlemen memutuskan untuk menggelar pemungutan suara alias voting untuk menentukan kelanjutan rencana pemakzulan Trump. Voting ini akan digelar pada Rabu (18/12) waktu setempat.
"Besok (18/12) DPR AS akan menjalankan satu kewenangan besar yang ada di konstitusi," ujar Ketua House of Representatives (DPR), Nancy Pelosi, dikutip dari AFP, Rabu (18/12). "(Yaitu) mengenai persetujuan dua pasal pemakzulan Presiden Amerika Serikat."
"Selama masa hening dalam sejarah nasional kami, kita harus menghormati janji," imbuh Pelosi. "Untuk mendukung konstitusi kami dari musuh asing dan dalam negeri."
Menanggapi rencana parlemen untuk melengserkannya dari kursi AS 1, Trump pun tidak tinggal diam. Ia dilaporkan langsung melayangkan surat penuh kemarahan kepada Pelosi.
Dikutip dari BBC, Trump menyebut bahwa sang Ketua DPR tengah menabuh genderang perang terhadap demokrasi. "Anda telah merendahkan makna dari sebuah kata yang sangat buruk, pemakzulan!" seru Trump.
Menurut Trump, apa yang dilakukan parlemen begitu buruk. Sebab parlemen tampak berlindung di balik istilah "melindungi negara" demi memuluskan kepentingan pribadi.
Trump juga mengklaim bahwa ada haknya dalam kasus itu yang tak dipenuhi oleh parlemen. Yakni Trump yang merasa tak diberi kesempatan untuk menyanggah segala tuduhan pemakzulan.
Namun, masih dilansir dari BBC, Komisi Yudisial DPR AS sejatinya telah mengundang Trump maupun kuasa hukumnya untuk menghadiri sidang. Trump dan tim diperkenankan untuk menyampaikan sanggahannya. Hanya saja undangan itu ditolak.
Di sisi lain, Partai Demokrat sebagai pengusul pemakzulan Trump terus melakukan penggalangan dukungan. Sebelumnya elite Demokrat, seperti Adam Schiff dan Jerry Nadler, menyebut bahwa presiden 73 tahun itu merupakan "bahaya yang nyata bagi demokrasi AS".
(wk/elva)