Pembina Pramuka yang Ajarkan Tepuk 'No Kafir' di Jogja Ngaku Khilaf dan Spontan
Nasional

Ketua Kwarcab Pramuka Kabupaten Gunungkidul telah memanggil pembina yang mengajarkan tepuk dengan yel-yel 'Islam Yes, Kafir No'. Pembina tersebut juga diperiksa oleh Dewan Kehormatan Kwarcab.

WowKeren - Beberapa waktu lalu, kasus ajaran tepuk pramuka "no kafir" di SDN Timuran menghebohkan masyarakat Yogyakarta. Diketahui, seorang pembina Pramuka berinisial E yang tengah mengikuti kursus mahir lanjutan (KML) mengajarkan tepuk dengan yel-yel "Islam Yes, Kafir No" ke kelompok siaga putri di SDN Timuran Yogyakarta

Ketua Kwarcab Pramuka Kabupaten Gunungkidul, Bahron Rasyid, lantas telah memanggil pembina tersebut. Pembina tersebut mengaku menyesali perbuatannya dan tidak akan mengulanginya lagi.


"Sudah saya panggil, kemudian dia menyatakan khilaf, dia melakukan itu (sematkan yel-yel rasis pada tepuk Pramuka) secara spontan," tutur Bahron dilansir detikcom, Rabu (15/1). "Dan menyatakan menyesal serta tidak akan mengulanginya lagi."

Akibat kejadian tersebut, sang pembina pun diperiksa oleh Dewan Kehormatan Kwarcab. Bahron lantas menjamin bahwa hal serupa tidak akan terulang kembali.

"Kami (Kwartir cabang Gunungkidul) telah melakukan rapat dan memerintahkan dewan kehormatan kwartir cabang untuk memeriksa yang bersangkutan dan melaporkan," ujar Bahron. Meski demikian, Bahron masih belum dapat menentukan sanksi kepada pembina tersebut. Pasalnya, ia masih menunggu keputusan Dewan Kehormatan Kwarcab Gunungkidul.

"Dari Kwarcab pertama perintahkan dewan kehormatan untuk klarifikasi dan memeriksa yang bersangkutan," jelas Bahron. "Nanti dari mereka akan memberi rekomendasi dan pertimbangan ke ka Kwarcab untuk menentukan apa yang diberikan ke yang bersangkutan."

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Pembinaan Anggota Muda Kwarcab Kota Yogyakarta, Suraji Widarta, telah menyatakan bahwa pembina yang mengajari tepuk "No Kafir" tersebut tidak diluluskan. E bahkan di-blacklist hingga tingkat nasional.

"Iya (E tidak diluluskan)," tegas Suraji di Kantor DPRD Kota Yogyakarta, Selasa (14/1). Suraji juga mewakili jajarannya menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang terjadi. Ia pun berjanji agar kejadian serupa tak terulang di masa depan.

Di sisi lain, kejadian ini diungkap oleh salah seorang wali murid SDN Timuran berinisial K. Menurut K, praktik KML awalnya berjalan normal hingga muncul seorang pembina Pramuka putri yang mengajarkan tepuk dan disematkan yel-yel rasis. "Saya kaget karena di akhir tepuk kok ada yel-yel 'Islam Islam Yes, Kafir Kafir No'," ungkap K.

You can share this post!

Related Posts