Pengalaman Pengikut Keraton Agung Sejagat: Diundang Cairkan Dana Dari Swiss Malah 'Terjebak' Kirab
Nasional
Fenomena Kerajaan Fiktif

Keraton Agung Sejagat diketahui berhasil menggaet sekitar 450 pengikut. Tak hanya warga Purworejo, ada 5 warga Kulon Progo yang turut menjadi pengikut Keraton tersebut.

WowKeren - Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Jawa Tengah, sempat menggegerkan warga hingga viral. Kini, "Raja dan Ratu" Keraton tersebut telah ditangkap polisi dan ditetapkan sebagai tersangka dengan pasal penipuan.

Keraton Agung Sejagat sendiri mulai dikenal publik usai menggelar acara Wilujengan dan Kirab Budaya pada 10-12 Januari 2020. Keraton ini rupanya berhasil menggaet sekitar 450 pengikut. Tak hanya warga Purworejo, ada 5 warga Kulon Progo yang turut menjadi pengikut Keraton tersebut.


Salah seorang warga Kulon Progo pengikut Keraton Agung Sejagat, Sudadi, lantas mengungkapkan pengalamannya. Rupanya, "Sang Raja" Sinuhun Totok Santosa alias Totok Santosa Hadiningrat, memiliki trik untuk mengundang para pengikutnya dalam meramaikan kirab.

Menurut Sudadi, Totok awalnya mengundang mereka untuk mencairkan dana kesejahteraan dari Swiss. "Saya itu korban, saya ke sana hanya pas kirab dan sidang," tutur Sudadi dilansir detikcom pada Kamis (16/1).

Sudadi mengaku datang ke Purworejo pada 12 Januari 2020 kemarin lantaran mendapat undangan sidang dalam rangkaian acara untuk mencairkan dana dari Swiss. Dana tersebut memang sudah dijanjikan semenjak Sudadi aktif dalam Kulon Progo Development Committee (KP Dec), organisasi yang diprakarsai oleh Totok sendiri.

Dana yang dijanjikan itu disebut sangat besar, bahkan disebut-sebut bisa digunakan untuk menyejahterakan Nusantara. Akhirnya, Sudadi pun memenuhi undangan tersebut dan datang ke Purworejo.

Sayangnya, bukan dana Swiss yang ia dapat, Sudadi justri diminta untuk membayar Rp 2 juta untuk membeli baju seragam kebesaran Keraton. Padahal, untuk berangkat ke lokasi "Keraton" di Pogung, Purworejo, tersebut, Sudadi harus menyewa mobil untuk berangkat besama 4 orang teman lainnya.

"Saya itu belum pernah mendapatkan gaji, yang ada malah rugi," ungkap Sudadi. "Dari sewa mobil, membayar iuran dan beberapa pengeluaran lain."

Selain itu, Sudadi juga mengaku bahwa dirinya bukan kali ini saja diundang dalam rangkaian kegiatan yang diprakarsai Totok. Sebelumnya, mantan kepala desa itu juga pernah ikut dalam rangkaian kegiatan yang dikemas dalam budaya, mulai dari prasasti di Prambanan, Dieng, hingga mengambil batu di Bruno, Purworejo. "Kalau ke keraton (Keraton Agung Sejagat) ya hanya itu saja," pungkas Sudadi.

You can share this post!

Related Posts