Jadi PR Berat Untuk Ahok, Ini Bukti Adanya Para Mafia Migas yang Masih Berkeliaran
Nasional

Presiden Jokowi telah memberikan wewenang kepada Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, dan juga Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko untuk memberantas mafia migas.

WowKeren - Presiden Joko Widodo telah menyatakan tekadnya untuk memberantas para mafia minyak dan gas (migas). Para mafia migas ini terus berkeliaran berburu rente untuk mencari keuntungan tanpa memperdulikan nasib pihak lain, termasuk negara.

Demi memberantas para mafia migas, Jokowi telah memberikan wewenang kepada Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, dan juga Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. Lalu apa bukti keberadaan para mafia migas hingga menjadi PR bagi Ahok?


Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menuturkan bahwa salah satu bukti adanya mafia migas adalah tidak adanya pembangunan kilang migas. Hal ini juga telah dikeluhkan oleh sang Presiden.

"Ada upaya sistemik menghalangi pembangunan kilang," tutur Fahmy dilansir detikcom pada Senin (20/1). "Itu kan dikeluhkan Jokowi juga, sudah 35 tahun Pertamina tidak membangun kilang, padahal banyak juga investor seperti Saudi Aramco, ada Rusia, ada OOG (Overseas Oil & Gas) Oman itu sudah dalam tahap penandatanganan framework agreement, tapi sampai sekarang tidak ada satu pun yang bisa direalisasikan."

Selain itu, Fahmy yang pernah menjadi Tim Anti Mafia Migas tersebut juga meyakini bahwa mafia migas erat kaitannya dengan impor. Fahmy menilai para mafia hidup selama RI masih terus melakukan impor migas.

"Jadi kalau berdasarkan pada hasil temuan kami dulu, kemudian melihat gejala sekarang ini, salah satu indikatornya memang peningkatan impor migas," ujar Fahmy. "Dan mafia migas bermain di impor tadi, berburu di impor."

Sebelumnya, besarnya impor mihas RI memang sudah menjadi perhatian Jokowi. Sang Presiden bahkan mengaku telah mengantong nama dalang di balik impor migas yang mencapai 800 ribu barel per hari.

Sementara itu, anggota Komisi VII DPR RI, Kardaya Warnika, menilai bahwa praktik mafia migas ini sebenarnya dapat dirasakan. Hanya saja, keberadaan mereka memang tergolong sulit dicari.

"Kalau mengenai mafia migas itu ya saya selalu mengatakan ini seperti kentut, tercium," jelas Kardaya. "Tapi kalau dilihat siapa yang kentut susah, tapi dirasakan ada."

Kardaya menilai praktik mafia migas ini sulit diselidiki karena kebanyakan dari mereka beraksi dengan mengikuti peraturan yang ada. Namun, para mafia migas tersebut memanfaatkan celah-celah dari ketentuan yang berlaku.

"Mafia migas ini kan dilihatnya kalau pembelian minyak terasa lebih mahal dari yang semestinya, nah itulah tanda-tandanya," ungkap Kardaya. "Sebetulnya mafia migas ini susah dilihat karena mereka bekerja mengikuti peraturan ketentuan, ya legal saja. Tapi mereka memanfaatkan celah-celah dari peraturan yang ada."

You can share this post!

Related Posts