Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire Sukses Raup Banyak Pengikut, Ini Sebabnya
Nasional
Fenomena Kerajaan Fiktif

Psikolog menjelaskan alasan mengapa kerajaan-kerajaan fiktif yang terus bermunculan seperti Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire dapat sukses memiliki banyak pengikut.

WowKeren - Masyarakat Indonesia belakangan ini terus digegerkan dengan kemunculan kerajaan-kerajaan fiktif di sejumlah wilayah. Hebohnya kerajaan-kerajaan fiktif ini pertama diawali dengan munculnya Keraton Agung Sejagat di Puworejo yang kemudian disusul dengan terbitnya Sunda Empire yang merupakan Kekaisaran Matahari.

Keraton Agung Sejagat telah mengklaim dirinya sebagai penguasa dunia dan juru damai. Bahkan, Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat telah mengaku-aku memiliki rantai Mataram Agung dan keturunan Majapahit. Dampak pengakuan tersebut, pengikut Keraton Agung Sejagat bahkan mencapai lebih dari 400 orang yang tersebar di seluruh Jawa Timur.


Tidak jauh berbeda dengan Keraton Agung Sejagat, Sunda Empire juga tumbuh dengan narasi serupa. Mereka mengklaim telah berdiri sejak zaman Alexander The Great. Bahkan, Sunda Empire telah mengklaim jika mereka merupakan pemilik tanah seluruh dunia.

Selain itu, Sunda Empire bahkan menyebut jika Indonesia hanya menumpang saja di kerajaan mereka. Mereka mengaku telah memiliki sertifikat tanah dari NATO demi membuktikan pernyataan tersebut.

Sontak keberadaan Kerajaan Agung Sejagat dan Sunda Empire tersebut menimbulkan berbagai pertanyaan mengapa semakin hari banyak kerajaan fiktif bermunculan di Indonesia? Semakin luar biasa saat pengikut kedua kerajaan tersebut begitu banyak.

Seorang Psikolog bernama Bimo Wikantiyoso yang juga merupakan mahasiswa S3 psikologi di Universitas Atma Jaya menjelaskan tentang munculnya fenomena tersebut. Menurutnya, fenomena tersebut muncul akibat ada kebutuhan yang tidak terpenuhi oleh individu maupun kelompok.

Akibatnya, saat ada suatu kelompok lain yang menawarkan atapun menjanjikan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka orang-orang akan sangat mudah terpengaruh. Sontak hal tersebut membuat sebagian orang-orang mudah percaya dan berbondong-bondong mau menjadi pengikut kerajaan fiktif.

"Jadi itu kuncinya, bahwa kebutuhan yang diinginkan bisa teraktualisasi atau terpenuhi kalau mereka ada di dalam masyarakat atau kelompok," jelas Bimo seperti dilansir dari Kumparan, Selasa (21/1). "Tapi, kalau masyarakatnya enggak bisa memenuhi, ngapain kita bermasyarakat, kan gitu. Sehingga, ketika ada tawaran masyarakat model baru, ya dicoba."

"Saya mengamati ini cukup lama, bahwa memang ada sebuah narasi yang dibangun dari setiap orang atau kelompok yang melakukannya," sambungnya. "Mau itu yang bikin negara, mau bikin investasi, dan seterusnya yang memang menjawab sebuah kebutuhan yang didambakan masyarakat."

Oleh karena itu, Bimo mengingatkan pentingnya peran pemerintah dalam membangun narasi kepada masyarakat demi menumbuhkan kembali rasa bangga sebagai orang Indonesia. Pasalnya, masyarakat yang pesimis terhadap negaranya sendiri akan langsung berlari mencari alternatif lain seperti menjadi pengikut kerajaan-kerajaan fiktif.

"Ditangkap oleh masyarakat, negeri ini tidak menawarkan apapun. Kalau ada yang ngasih alternatif kenapa tidak?," ujar Bimo. "Dari kacamata masyarakat, saya ditawari sesuatu yang lebih baik, terlepas masuk atau enggak (menjadi bagian kerajaan) itu tergantung dari orangnya."

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts