Ramai Wacana Pemulangan, Begini Curhatan WNI Eks Simpatisan ISIS di Suriah
ABC.net.au
Nasional
Pro-Kontra Pemulangan WNI Eks ISIS

Di tengah ramainya perbincangan soal wacana pemulangan tersebut, seorang WNI eks simpatisan ISIS yang kini berada di kamp pengungsian Rojava, Suriah, pun buka suara.

WowKeren - Wacana pemulangan warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi mantan simpatisan ISIS di Suriah kini tengah ramai dibahas. Pemerintah Indonesia sendiri mengaku hingga kini masih belum mengambil keputusan terkait wacana tersebut.

Di tengah ramainya perbincangan soal wacana pemulangan tersebut, seorang WNI eks ISIS bernama Aleeyah Mujahid (bukan nama sebenarnya) pun buka suara. Aleeyah mengaku bersyukur apabila pemerintah Indonesia bersedia memulangkan dirinya dan kawan-kawan yang berada di kamp pengungsian di Rojava, Suriah.


"Kalau jawabannya pulang ke Indonesia, alhamdulillah," tutur Aleeyah dilansir Tempo pada Senin (10/2). Aleeyah dan 13 WNI lain telah berada di kamp pengungsian tersebut selama sekitar 2 tahun.

Aleeyah sendiri mengaku terus berdoa agar bisa keluar dari wilayah tersebut menuju tempat yang lebih baik. Sebelumnya, Aleeyah memutuskan untuk bergabung dengan ISIS dan pergi ke Suriah pada Desember 2015.

"Tujuan gue? Kehidupan yang lebih baik," jelasnya. "Better life di kacamata gue itu bukan soal ekonomi, tapi soal keselamatan agama gue."

Sebelumnya, Aleeyah mengaku telah mencari-cari situs konsultasi tentang Islam. Ia pun menemukan sebuah situs dari ISIS yang membahas soal hijrah pada Agustus 2015.

"Patut gue akui, gaya bahasa dan tulisan yang mereka umbar di media sebagai nilai jual dan daya tarik mereka emang cantik dan ciamik," ungkapnya. "Bikin gue mikir, apa ini jawaban dari kebimbangan gue? Apa ini jawaban dari pencarian gue?"

Setelah itu, ia merencanakan kepergiannya ke Suriah seorang diri. Ia membuat paspor, mencari tiket pesawat, memesan hotel, hingga mendapatkan visa Turki. Orangtua Aleeyah sendiri tahu bahwa anak mereka akan pergi ke Turki, namun mereka tak tahu bahwa sang putri tak berencana kembali ke Indonesia.

Aleeyah bahkan mendapat uang saku ratusan dolar lebih dari orangtuanya. "Tapi gue sebenarnya ngantongin lebih," ujarnya.

Setelah 5 bulan hidup di bawah ISIS, ekspektasi Aleeyah dan suaminya pun terhempas. Aleeyah mengaku mulai melihat kebobrokan ISIS sejak kejatuhan Mosul pada akhir Oktober atau awal November 2016. Ia juga mengaku masih banyak kebohongan serta kedzaliman yang menjamur.

Usai tinggal di Albu Kamal selama lebih dari setahun, Aleeyah dan suami serta anaknya pun pindah ke Baghouz yang berjarak sekitar 12 kilometer dari tempat tinggalnya sebelumnya. ISIS sendiri telah digempur habis-habisan beberapa bulan sebelum Aleeyah hengkang dari wilayah tersebut.

Aleyaah dan anaknya bersama sejumlah wanita lain pun keluar dengan menggunakan truk pada Desember 2017. Sayangnya, truk mereka dihentikan oleh kelompok berseragam yang mengenakan emblem YPG, organisasi militer Partai Persatuan Demokratik di Suriah yang mengendalikan sebagian besar wilayah Rojava. Aleeyah pun berakhir di kamp pengungsian Rojava hingga sekarang.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts