Pengamat Ingatkan Pemerintah Waspada Doktrin 'Pura-Pura' Ala ISIS Soal Kepulangan WNI
Nasional
Pro-Kontra Pemulangan WNI Eks ISIS

Pengamat Terorisme mengingatkan Pemerintah Indonesia untuk mewaspadai doktrin 'pura-pura' yang biasa digunakan ISIS untuk mengelabui musuhnya terkait wacana kepulangan WNI.

WowKeren - Pemerintah Indonesia sedang mengkaji rencana pemulangan ratusan Warga Negara Indonesia (WNI) yang sempat bergabung dengan organisasi terorisme Internasional, Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Rencana tersebut sontak mendapatkan berbagai sorotan dari masyarakat Indonesia.

Bukan tanpa sebab, berbagai penolakan seolah berkumandang keras lantaran banyak masyarakat yang dibuat resah terkait rencana pemulangan WNI eks ISIS tersebut. Mereka khawatir jika kepulangan WNI yang pernah bergabung dalam jaringan teroris tersebut dapat menimbulkan keonaran, bahkan menyebarkan paham radikalisme di Indonesia.


Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia (UI) Ridlwan Habib lantas memberikan peringatannya terhadap pemerintah terkait kepulangan WNI eks ISIS tersebut. Menurutnya, ada salah satu doktrin dari ISIS yang patut diwaspadai pemerintah Indonesia dalam menangani kepulangan WNI tersebut.

Doktrin tersebut adalah taqiyah atau berpura-pura. Biasanya, doktrin taqiyah sering digunakan oleh anggota ISIS untuk berbohong dan berusaha mengelabui musuh-musuhnya.

"Karena sangat mungkin untuk berbohong. Apalagi ISIS itu punya doktrin yang disebut dengan taqiyah, atau berpura-pura," kata Ridlwan dalam sebuah diskusi di Jakarta, Minggu (9/2). "Jadi bagi mereka boleh berbohong di depan musuh."

Apalagi, ISIS selama ini menilai negara Indonesia sebagai negara musuh yang zalim. Tak hanya itu, Ridlwan juga menyoroti terkait Indonesia yang dinilai belum memiliki prosedur khusus untuk mendeteksi kadar ideologi radikalisme yang dimiliki seseorang.

"Indonesia belum punya prosedur deteksi ideologi," jelas Ridlwan. "Yang saya maksud prosedur deteksi ideologi adalah kita tidak bisa melihat secara objektif seseorang ini sudah sembuh secara ideologi atau belum."

"Jadi itu yang berbahaya. Jadi, mereka menangis misalnya minta dipulangkan, tanda tangan," sambungnya. "Tetapi tanya hati nuraninya, ideologinya masih belum sembuh."

Meski tidak mendukung kepulangan WNI eks ISIS, Ridlwan menyampaikan jika pemerintah masih dapat memikirkan opsi khusus untuk memulangkan anak-anak dan perempuan. Pasalnya, anak-anak dan para perempuan dinilai belum tentu benar-benar bergabung dengan ISIS dan masih dapat dilakukan bimbingan konseling.

"Masih bisa diperbaiki," tegas Ridlwan. "Tetapi kalau kemudian posisinya wanita dewasa yang tidak lemah, mereka juga sama militannya dengan laki-laki bahkan lebih militan."

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts