Siswi SMP di Purworejo Disiksa 3 Siswa, Latar Belakang Menyedihkan Jadi Sorotan
Nasional

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengungkap latar belakang menyedihkan dari siswi SMP Muhammadiyah Butuh, Purworejo, yang menjadi korban penyiksaan oleh tiga siswa temannya.

WowKeren - Baru-baru ini kasus perundungan terus mewarnai pemberitaan di Indonesia. Salah satu yang terbaru adalah penyiksaan yang dilakukan tiga siswa di SMP Muhammadiyah Butuh, Purworejo, Jawa Tengah terhadap seorang siswi.

Kasus ini begitu menyita perhatian orang, termasuk Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Polisi pun sudah turun tangan dan menjerat ketiga siswa tersebut sebagai tersangka dengan ancaman hukuman 3,5 tahun penjara.

Kekinian korban dilaporkan menderita sejumlah luka lebam yang sejatinya tidak mengganggu aktivitas. "Ada luka lebam di pinggang (korban) sebelah kanan, tapi tidak mengganggu aktivitas," ungkap Kapolres Purworejo, AKPB Rizal Marito, Kamis (13/2).

Kendati luka yang dialami tidak begitu parah, nyatanya sang korban dilaporkan sampai sekarang tidak masuk sekolah. Pihak sekolah yang dikonfirmasi pun mengaku kurang paham apakah korban tidak masuk karena trauma atau alasan lain.


"Korban hari ini nggak masuk sekolah. Tapi kami tidak tahu pasti apakah karena trauma atau apa. Kami dengar korban sudah diperiksakan ke dokter juga tapi hasilnya kami juga belum tahu," ujar Kepala SMP Muhammadiyah Butuh, Akhmad, dikutip dari Detik News.

Mirisnya lagi, diungkap oleh Gubernur Ganjar, rupanya korban merupakan siswi berkebutuhan khusus. Siswi korban penganiayaan tersebut juga merupakan anak dari keluarga kurang mampu. Sederet fakta itulah yang kemudian menjadi pertimbangan Ganjar dalam mengambil keputusan.

"Kita minta orang tuanya tidak usah kerja dulu, buruh orang tuanya. Kita bantu keuangannya, agar ada trauma healing ke si anak," terang Ganjar di kantornya, Semarang, Kamis (13/2) siang. "Ternyata anaknya berkebutuhan khusus. Kita akan rayu agar anaknya dapat sekolah yang sesuai."

Kondisi ini juga membuat Ganjar lantas menggodok rencana untuk menutup sekolah tempat terjadinya perundungan tersebut. Bukan hanya karena masalah perundungan, sekolah itu juga dinilai kekurangan murid.

"Mungkin kita harus berani ambil tindakan. Sekarang saya lagi minta regulasinya ditata dan saya minta kepada semua pemangku kepentingan pendidikan yang begini boleh gak sih dilikuidasi?" tanya Ganjar. "Saya kira kalau seperti itu gak ada muridnya atau gak bisa keluar dengan baik ditutup saja atau digabung dengan sekolah kiri kanannya."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts