Polisi Beber 'Daftar Dosa' Pembina Susur Sungai Maut, Fakta Ini Paling Disorot
Nasional
Tragedi Susur Sungai Sleman

3 pembina Pramuka SMPN 1 Turi ditetapkan sebagai tersangka dalam insiden susur sungai maut di Sleman, Jumat (21/2). Ketiganya pun mengaku telah lalai dalam mengeksekusi kegiatan tersebut.

WowKeren - Insiden susur sungai berujung petaka yang menimpa 249 siswa SMPN 1 Turi, Sleman, DI Yogyakarta pada Jumat (21/2) kemarin masih menjadi bahasan panas. Polisi mencatat 10 siswa dari kelas 7 dan 8 meninggal dunia akibat terseret arus kencang Sungai Sempor.

Kekinian polisi pun menetapkan 3 orang pembina sebagai tersangka. Salah seorang tersangka berinisial IYA pun mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya, baik kepada sekolah maupun keluarga para korban. Bahkan ia tampak kesulitan menahan deraian air matanya ketika mengucapkan permohonan maaf itu.


"Atas kelalaian kami, terjadi seperti ini. Kami sangat menyesal dan memohon maaf kepada keluarga korban, terutama korban meninggal dunia," ujar IYA dengan nada pasrah. "Semua ini sudah menjadi risiko kami. Sehingga, apapun yang menjadi keputusan (hukum), kami terima."

Kelalaian IYA dan 2 tersangka lain memang berbuntut panjang. Polisi mencatat setidaknya ada tiga kelalaian besar yang dibuat para tersangka, terutama IYA, sehingga menyebabkan insiden maut ini.

Salah satu yang sangat disorot adalah perihal persiapan para pembina. Rupanya IYA sempat "menyombong" dan mengaku tak perlu memeriksa lokasi susur sungai dengan dalih sudah memahami kontur yang ada.

"Dia keterangannya sudah memahami (medan). Tapi sebelum itu kan dua hari hujan dan segala macam kan, (tapi) dia tidak ada inisiatif untuk mengecek," ujar Kasatreskrim Polres Sleman, AKP Rudy Prabowo di Mapolres Sleman, Selasa (25/2). "Namanya sungai kan kita tidak tahu airnya seperti apa. (Bagaimana kondisi) lima hari terakhir, seminggu terakhir itu seperti apa."

Tak hanya itu, rupanya para pembina juga tidak menyiapkan keamanan yang memadai untuk kegiatan tersebut. Bahkan alat-alat keselamatan yang wajar, seperti pelampung atau tali, juga tak mereka bawa.

"Inilah yang tidak mereka perhitungkan mulai masa perencanaan. Jadi memang bisa dibilang sangat minim sekali persiapan," sesal Rudy, dikutip dari Kompas, Rabu (26/2).

Mirisnya lagi, sudah minim persiapan, IYA justru lantas meninggalkan rombongan siswanya demi melakukan transfer uang. Sehingga kala insiden terjadi, ratusan siswa itu hanya didampingi oleh empat pembina di luar para tersangka.

"Ketiga orang ini penentu dan ide lokasi ada pada mereka, terutama IYA. Tetapi mereka justru tidak ikut turun," jelas Wakapolres Sleman, Kompol M Kasim Akbar Bantilan.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts