Menko Airlangga Soal RI Jadi Negara Maju: Senang, Masa Sedih
Nasional

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko) Airlangga Hartarto menyambut baik keputusan Amerika Serikat (AS) mencoret Indonesia dari daftar negara berkembang.

WowKeren - Indonesia telah dicoret dari daftar negara berkembang oleh Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR). Keputusan yang diketahui merupakan ide Donald Trump tersebut sontak membuat Indonesia naik satu level sehingga meraih predikat sebagai negara maju.

Meski demikian, keputusan AS tersebut dinilai sejumlah pihak hanya merupakan akal-akalan Presiden Trump saja demi meraih keuntungan bagi negaranya. Perubahan status itu justru dikhawatirkan akan menghilangkan keistimewaan Indonesia dalam melakukan aktivitas berdagang dengan AS.


Namun, tanggapan berbeda diberikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko) Airlangga Hartarto. Airlangga justru menyambut baik terkait perubahan status Indonesia dari negara berkembang menjadi negara maju. Bahkan, ia meminta seluruh pihak untuk tidak bersedih dan justru bahagia mendengar hal tersebut.

Mantan Menteri Perindustrian ini lantas berkaca melalui hasil proyeksi yang sudah ada dimana Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar keempat di tahun 2045. Dengan begitu perubahan status sebagai negara maju harus disambut baik. "Makanya kalau dibilang sama Amerika negara maju ya harus senang, masa sedih," kata Airlangga dalam acara Economic Outlook 2020 yang diselenggarakan di Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta pada Rabu (26/2).

Seperti yang diketahui, perubahan status Indonesia sebagai negara maju secara otomatis akan berdampak pada pemberian fasilitas Generalize System of Preference (GSP). Saat Indonesia menjadi negara berkembang, Indonesia mendapatkan keringanan bea masuk eskpor barang ke AS. Dengan perubahan status ini, maka Indonesia sudah tidak akan mendapatkan lagi keringanan.

Airlangga lantas meminta publik tidak perlu mengkhawatirkan hal tersebut. Menurutnya, predikat baru dari AS tersebut sampai saat ini masih terus menghasilkan keuntungan dagang bagi Indonesia.

"Terkait bea masuk GSP kita hanya 20% dari perdagangan, dan on top of that GSP perundingannya sudah selesai. Jadi kriteria GSP saja yang ditingkatkan," jelas Airlangga. "Indonesia memproses manufaktur contoh mereka ekspor kapas, kita ekspor tekstil, mereka ekspor gandum kita ekspor bakmi. Dan Indonesia dengan Amerika trade positif sekitar US$ 12 miliar. Jadi jangan sedih."

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts