Butuh Biaya Besar, Gubernur Sulteng Akui Tak Siap Lockdown Wilayahnya
Nasional
Wabah Virus Corona

Gubernur Sulawesi tengah Longki Djanggola menuturkan jika melakukan penguncian atau lockdown di suatu wilayah memiliki konsekuensi yang besar terutama dari sisi dana.

WowKeren - Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola menyampaikan pandangannya terkait kebijakan lockdown jika akan diterapkan di wilayahnya. Menurutnya, kebijakan itu memiliki konsekuensi yang besar, meskipun pada dasarnya bertujuan untuk mencegah penularan corona.

Adapun pernyataan Longki tersebut dalam rangka menanggapi usul Ketua DPRD Sulteng Nilam Sari Lawira, dalam rapat koordinasi penanganan Covid-19 di Palu, Senin (16/3). Lockdown, dikatakannya, adalah upaya mengisolasi diri. Artinya, penduduk Sulteng dilarang beraktivitas di luar rumah dimana akhirnya hal ini akan berdampak pada perekonomian masyarakat.

"Lockdown itu mengisolasi diri," kata Longki dilansir Antara, Selasa (17/3). "Apakah kita siap membiayai penduduk Sulteng kalau lockdown dilakukan, karena mereka tidak boleh beraktivitas di luar rumah? Tidak bisa."

Ia pun secara blak-blakan mengakui jika Pemprov Sulteng tidak memiliki cukup dana untuk menanggung konsekuensi lockdown. Anggaran yang mereka miliki tak cukup untuk menanggung hidup tiga juga warganya. Sebaliknya, Longki lebih menekankan pada pembatasan aktivitas warga.


"Yang ada itu pembatasan sosial. Aktivitas penduduk Sulteng di luar rumah dibatasi," tegas Longki. Pembatasan interaksi sosial tersebut dilakukan dengan menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar di sekolah selama 14 hari ke depan. Tak hanya itu, pemprov juga melakukan penutupan pada tempat hiburan.

Tak hanya itu, pemprov Sulteng juga melarang masuk WNA yang datang dari negara yang melaporkan kasus penularan corona. Longki mengimbau warganya untuk mengurangi kontak fisik dengan orang maupun benda-benda yang berpotensi menjadi media penularan virus.

Sementara itu, kebijakan lockdown telah diberlakukan di Solo sejak beberapa hari lalu. Hal itu menyusul adanya pasien positif corona yang meninggal di RSUD dr Moewardi Solo, Jawa Tengah pada Rabu (11/3).

Wali Kota Solo F.X Hadi Rudyatmo mengaku hal ini dilakukan demi keselamatan dan kesehatan para warganya. Ia sadar jika keputusannya itu akan mendapat kritikan dari sejumlah warganya yang tak setuju dengan karena akan merugikan perekonomian. Namun, ia mengaku tidak masalah.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts