Pandemi Corona Bikin Merugi, Ojol Tolak Opsi Lockdown
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Para driver ojek online (ojol) mendukung keputusan pemerintah yang tidak akan melakukan lockdown di tengah pandemi corona. Pasalnya, jika opsi tersebut dilakukan maka mata pencaharian para ojol akan mati.

WowKeren - Penyebaran virus corona di Indonesia hingga Rabu (18/3) telah menginfeksi 227 orang. Jumlah yang kian bertambah ini membuat sejumlah masyarakat mendesak pemerintah untuk melakukan lockdown atau mengunci akses masuk dan keluar sebuah wilayah/negara.

Lockdown sendiri telah diterapkan oleh beberapa negara demi mencegah penyebaran penularan virus corona. Namun, hingga saat ini pemerintah masih enggan untuk mengambil opsi tersebut.

Driver ojek online pun mendukung keputusan pemerintah tersebut. Ketua Presidium Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) Igun Wicaksono mengatakan bahwa lockdown akan membuat sengsara pekerja informal yang bergantung pada pendapatan harian seperti driver ojek online (ojol).

"Kami menolak lockdown, artinya kalau lockdown itu kan tidak boleh ada aktivitas apa pun di jalan raya ya," kata Igun, Rabu (18/3). "Sebagian besar di Jakarta atau di tempat lain kan pekerjanya informal, khususnya kami para ojek online, yang harus mencari nafkah sehari-hari ya (penghasilan harian). Nah di situ kalau sampai terjadi lockdown artinya kita dirumahkan semua."


Igun mengatakan jika lockdown benar terjadi maka para driver ojol akan kehilangan penghasilan. "Kita mau cari penghasilan dari mana apabila terjadi lockdown. Apabila terjadi lockdown, semua aktivitas jadi lumpuh total bagi ojek online. Dan praktis hilang penghasilan," terangnya. "Ini kan bahaya, karena ojek online kan juga butuh untuk pendapatan buat nafkah maupun buat membayar cicilan kendaraan."

Padahal, dengan adanya kebijakan sistem kerja dari rumah atau work from home (WFH) yang diterapkan oleh beberapa perusahaan sudah membuat pendapatan ojol turun. "Saat ini aja kan statusnya work from home ya, bekerja dari rumah, itu saja sudah menurunkan penghasilan para ojek online secara signifikan. Khususnya yang layanan penumpang ya," katanya.

Sejak tiga hari pemberlakuan WFH di beberapa kantor, pendapatan ojek online turun. Igun bilang pendapatan driver ojek online turun hampir 50%.

"Turun, waktu hari pertama Senin tanggal 16 kemarin kan terjadi crowd transportasi umum kan, itu ada limpahan lah dari penumpang," paparnya. "Sekarang udah mulai sangat berkurang. Karena kan penumpang berangsur-angsur yang biasa rutinitas kerja menggunakan ojek online udah mulai di rumah."

Akibatnya, para driver ojol tak lagi pilih-pilih orderan. "Tidak selektif lagi, karena memang semuanya sedang membutuhkan ya buat penghasilan ya lagi situasi seperti ini," pungkasnya.

(wk/riaw)

You can share this post!

Related Posts