Dolar AS Diklaim Tembus Rp 16.000, 'Rupiah Ambyar' Langsung Puncaki Trending Topik
Nasional

Hasil pencarian nilai tukar dolar di Google sempat menunjukkan hasil di atas angka Rp 16.000 pada Kamis (19/3) hari ini hingga membuat warganet di media sosial gonjang-ganjing.

WowKeren - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kian melemah. Di perbankan konvensial Tanah Air, ada bank yang telah menjual dolar AS di posisi Rp 16.000 pada Kamis (19/3) hari ini.

Selain itu, hasil pencarian nilai tukar dolar di Google juga sempat menunjukkan hasil di atas angka Rp 16.000 pada hari ini. Hal tersebut membuat media sosial gonjang-ganjing hingga tagar #RupiahAmbyar memuncaki trending topic Twitter Indonesia.


"Sound like we go back to the 98's #RupiahAmbyar," komentar akun @ka***ia. "Yess yess yess $=16000 #RupiahAmbyar," timpal akun @je***ji. "16.000 preet! #RupiahAmbyar," tulis akun @se***17.

Dolar AS

Google

Meski demikian, Google sendiri bukanlah lembaga resmi yang dapat menghitung nilai tukar rupiah atau kurs lainnya. Bank Indonesia sendiri mematok nilai dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR.

Melansir Kumparan, JISDOR adalah harga spot USD atau rupiah, yang disusun berdasarkan kurs transaksi dolar AS terhadap rupiah antar bank di pasar valuta asing Indonesia. Hal ini dilakukan melalui Sistem Monitoring Transaksi Valuta Asing Terhadap Rupiah di Bank Indonesia secara real time. Pada hari ini, JISDOR sendiri mematok nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di posisi Rp 15.712.

Sementara di perbankan sendiri, harga beli beragam sesuai dengan bank masing-masing. Di BCA harga beli 1 Dolar AS adalah Rp 15.950 dan harga jual Rp 16.150.

Sedangkan di Bank Mandiri, harga beli satu dolar AS Rp 15.950 dan harga jualnya Rp 16.300. Lalu di BRI harga belinya Rp 15.970 dan harga jualnya Rp 16.410.

Di sisi lain, Direktur Riset Core Indonesia Piter Abdullah memprediksi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih akan terus melemah. Pasalnya, pasar keuangan masih dirundung sentimen negatif pandemik virus corona (Covid-19). "Selama belum ada berita baik terkait pandemik ini, IHSG dan nilai tukar berpotensi terus melemah," tutur Piter.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts