Tingkat Kematian Akibat COVID-19 Terus Melesat, Faktor Apa Saja Yang Mempengaruhi?
Health
Pandemi Virus Corona

Angka kematian akibat virus corona dilaporkan terus bertambah tinggi setiap harinya. Berbagai faktor turut mempengaruhi lonjakan data korban jiwa COVID-19. Apa saja?

WowKeren - Penyebaran wabah virus corona (COVID-19) semakin meluas setiap harinya. Kasus virus yang pertama kali muncul di Wuhan, Tiongkok ini telah menyerang 197 negara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan telah menyatakan wabah virus corona sebagai pandemi.

Berdasarkan data terbaru dari Worldometers, kasus COVID-19 di seluruh dunia telah mencapai angka 422.829 hingga Rabu (25/3). Total angka kematian akibat virus corona mencapai 18.907 orang.


Berbagai faktor dinilai turut mempengaruhi tingkat kematian seseorang yang positif terinfeksi corona. Lantas apa saja faktor yang dapat meningkatkan peluang kematian akibat COVID-19? Simak informasi berikut ini.

(wk/lian)

1. Penjelasan angka kematian akibat virus corona berdasarkan sejumlah penelitian


Penjelasan angka kematian akibat virus corona berdasarkan sejumlah penelitian

Sekretaris Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan presentase kematian akibat COVID-19 di dunia mencapai 3,4% pada 3 Maret lalu. Angka ini lebih tinggi dari flu musiman yang umumnya hanya membunuh 1% lebih sedikit dari mereka yang terinfeksi.

Report of the WHO-China Joint Mission pada Februari lalu mempublikasikan data sebanyak 2.114 dari 55.924 kasus yang terkonfirmasi corona telah meninggal. Rasio fatalitas akibat COVID-9 lantas terhitung mencapai 3,8%.

Dari analisis kasus kematian, berbagai faktor sangat mempengaruhi tingkat kematian seseorang yang positif corona. Diantaranya adalah faktor usia, jenis kelamin, hingga riwayat kesehatan para pasien. Orang tua dan orang sakit cenderung meninggal, jika mereka terkena virus corona.

Berbagai faktor lantas diteliti demi mengetahui tingkat kematian akibat virus corona meskipun ini tidak bisa menjadi gambaran mutlak setiap pasien. Namun, penelitian pola angka kematian yang dikonfirmasi dapat memberi tahu kita siapa yang paling berisiko.

2. Peluang Kematian Akibat Virus Corona Berdasarkan Usia


Peluang Kematian Akibat Virus Corona Berdasarkan Usia

Imperial College London melaporkan jika angka kematian orang berusia 80 tahun lebih tinggi dari yang di bawah 40 tahun. Namun Kepala penasihat kesehatan pemerintah Inggris, Profesor Chris Whitty memperingatkan jika virus corona tidak menjadikan orang muda menjadi lebih aman. Menurutnya, banyak orang muda berakhir di perawatan intensif akibat COVID-19.

Berdasarkan data dari Worldometers, peluang kematian akibat virus corona paling tinggi mengancam pasien yang berusia 80 tahun ke atas dengan presentase 21,9%. Sementara untuk pasien di bawah 40 tahun, kemungkinan meninggal setelah terkena virus corona hanyalah 0,2%.

Data menunjukkan jika orang-orang berusia di atas 80 tahun paling mungkin dirawat intensif di rumah sakit dan akhirnya meninggal selama pandemi ini. Sementara itu, angka kematian orang-orang muda masih rendah lantaran dipengaruhi oleh molekul yang memungkinkan virus masuk ke sel manusia tampaknya kurang bisa berkembang.

3. Peluang Kematian Akibat Virus Corona Berdasarkan Jenis Kelamin


Peluang Kematian Akibat Virus Corona Berdasarkan Jenis Kelamin

Global Health 50/50, sebuah lembaga penelitian yang meneliti ketidaksetaraan gender dalam kesehatan global telah menganalisis 20 negara dengan jumlah kasus COVID-19 tertinggi hingga 20 Maret. Hasilnya, ditemukan jika pria lebih banyak yang meninggal daripada wanita.

”Ketika kita melihat data yang kita lihat adalah bahwa di setiap negara dengan data terpilah berdasarkan jenis kelamin,” kata Sarah Hawkes, profesor kesehatan masyarakat global di University College London (UCL) Global Health 50/50. “Ada tingkat kematian 10% dan 90% lebih tinggi di antara orang yang didiagnosis dengan Covid jika mereka laki-laki dibandingkan dengan jika mereka adalah wanita.”

Dari perspektif evolusi, beberapa penelitian menunjukkan bahwa wanita memiliki respon imun yang lebih kuat terhadap infeksi virus daripada pria. Hal ini karena wanita menghabiskan sebagian hidup mereka dengan mengandung dan memberikan keturunan sehingga itu memberi keuntungan wanita untuk bertahan hidup.

”Ini mungkin ada hubungannya dengan perubahan hormon," kata Ostrosky-Zeichner. "Ada penelitian aktual pada hewan yang menunjukkan mungkin ada dasar biologis untuk jenis peningkatan kerentanan pada jenis kelamin laki-laki dan tidak hanya itu tetapi juga peningkatan keparahan dan respons terhadap virus."

4. Peluang Kematian Akibat Virus Corona Berdasarkan Riwayat Kesehatan


Peluang Kematian Akibat Virus Corona Berdasarkan Riwayat Kesehatan

Berdasarkan laporan Worldometers, pasien yang memiliki beberapa penyakit bawaan memiliki risiko kematian yang tinggi akibat virus corona. Beberapa penyakit yang menjadi faktor adalah penyakit kardiovaskular, pernapasan, diabetes dan dalam beberapa kasus adalah tumor.

Penyakit jantung sendiri menjadi peringkat pertama yang meningkatkan risiko kematian akibat COVID-19 yaitu sebesar 13,2%. Diabetes menjadi penyakit kedua yang paling berbahaya bagi pasien setelah 9,2% korban jiwa positif corona mengalami komplikasi.

Selanjutnya disusul oleh penyakit pernapasan yang telah kronis sebesar 8%. Virus corona sendiri menyerang paru-paru sehingga pasien yang memiliki masalah pernapasan akan berakibat fatal. Sementara pasien yang terkena kanker memiliki risiko kematian sebesar 8,4%.

5. Tingkat Kematian Pasien Corona Yang Dirawat Di Rumah Sakit


Tingkat Kematian Pasien Corona Yang Dirawat Di Rumah Sakit

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh JAMA pada 7 Februari mengungkapkan tingkat kematian pasien yang dirawat di rumah sakit. Hasilnya, sebanyak 26% pasien positif corona memerlukan penanganan di unit perawatan intensif (ICU).

Sebanyak 4,3% pasien dilaporkan meninggal dunia saat dirawat di rumah sakit. Sebelumnya juga ditemukan fakta dari 41 pasien yang dirawat, 13 orang atau (32%) pasien ditangani di ruang ICU. Sementara sebesar 15% meninggal dunia.

6. Gejala-Gejala Virus Corona Yang Muncul Hingga Kematian


Gejala-Gejala Virus Corona Yang Muncul Hingga Kematian

Data yang diterbitkan JAMA pada 7 Februari menyatakan jika waktu rata-rata dari gejala pertama ke dispnea adalah 5 hari. Kemudian gejala yang muncul hingga dilarikan ke rumah sakit diperkirakan mencapai 7 hari.

Kemudian virus corona saat mulai menunjukkan gejala Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) sekitar 8 hari. ARDS sendiri merupakan kondisi yang muncul ketika cairan mengumpul di alveoli sehingga menyebabkan penderita kritis atau mengalami cidera cukup parah.

Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok sendiri telah melaporkan perincian 17 kematian pertama hingga 24 malam 22 Januari 2020. Sebuah studi kasus-kasus ini menemukan bahwa rata-rata hari dari gejala pertama hingga kematian adalah 14 (kisaran 6-41) hari.

Waktu kematian bahkan cenderung lebih pendek di antara orang-orang berusia 70 tahun atau lebih dibandingkan di bawah 70 tahun dengan rata-rata 11,5 (6-19) hari. Orang dengan usia di bawah 70 tahun memiliki risiko kematian dalam waktu 20 (kisaran 10-41) hari.

Selain faktor kematian akibat corona, simak juga kaitan gejala mata merah muda dengan COVID-19 berikut. Ada juga artikel agar tetap produktif selama bekerja di rumah karena wabah corona disini.

You can share this post!

Related Posts