Mutasi Virus Corona Bikin Banyak Orang Resah, Ini Kata Ahli
Dunia
Pandemi Virus Corona

Ahli virus dari Yale School of Public Health, Nathan Grubaugh, menyoroti penyebab masyarakat memiliki persepsi negatif terhadap kata 'mutasi'. Menurutnya, komik fiksi berkontribusi terhadap persepsi negatif tersebut.

WowKeren - Pandemi virus corona (Covid-19) kini telah menyebar ke berbagai belahan dunia. Seorang ahli virus dari Yale School of Public Health, Nathan Grubaugh, lantas menyatakan bahwa virus corona yang menyebabkan penyakit Covid-19 telah bermutasi.

Kata "mutasi" virus corona sendiri mungkin meresahkan sebagian masyarakat dunia. Namun, Grubaugh justru menilai hal tersebut tak berbahaya lantaran mutasi merupakan sifat alamiah virus.


Sebagai informasi, mutasi terjadi karena virus memperbanyak diri. Kala berkembang biak dengan membuat replika diri, virus seringkali melakukan kesalahan. Kesalahan replika ini yang disebut sebagai mutasi, yakni perubahan material genetik antara virus baru dan orang tuanya.

Melalui jurnal ilmiah "We Shouldn't Worry When A Virus Mutates During Disease Outbreaks", Grubaugh menjelaskan bahwa mutasi virus corona SARS-Cov-2 tidak perlu dikhawatirkan. "Kecepatan mutasi virus atau perkembangannya bukan hal yang mengejutkan. Semua virus terus berevolusi dengan cara mutasi. Sehingga, seharusnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena proses ini bersifat umum," tutur Grubaugh dilansir CNN Indonesia pada Kamis (26/3).

Selain itu, Grubaugh juga menyoroti penyebab masyarakat memiliki persepsi negatif terhadap kata "mutasi". Menurutnya, komik fiksi tentang para tokoh komik yang mengalami mutasi genetik juga berkontribusi dalam persepsi negatif masyrakat.

"Ketika mendengar kata mutasi dalam cerita (kita mengasosiasikan) kalau sesuatu yang genting tengah terjadi, untuk sesuatu yang lebih baik atau buruk," ujar Grubaugh. "Tapi itu bukan cara mutasi bekerja. Kita semua produk mitasi. Secara genetik, kita berbeda dari para leluhur."

Sementara itu, khusus SARS-Cov-2 ini, virus bermutasi sangat cepat karena berbasis RNA untuk bahan genetiknya. Beda dengan virus berbasis DNA, virus RNA tak memiliki kemampuan untuk memperbaiki kesalahan kala mereka mereplikasi kode genetik induk. Akibatnya, virus RNA punya variasi genetik lebimenjadikannya Kejadian ini terjadi setelah bertahun-tahun lain.

Meski merupakan proses alami, Grubaugh tak menampik adanya kemungkinan mutasi virus corona bermutasi sehinga jadi lebih mematikan bagi manusia. Sebagai contoh, virus corona SARS-COV-2 yang saat ini tengah mewabah awalnya hanya menular antar hewan. Namun mutasi membuat irus ini bisa ditularkan dari hewan ke manusia. "Kejadian ini terjadi setelah bertahun-tahun," ucap Grubaugh.

Grubaugh pun mengingatkan agar para ahli terus melacak mutasi virus ini karena berhubungan dengan alat pengetesan yang kini banyak digunakan. Mutasi bisa membuat alat-alat tersebut tak lagi bisa mendeteksi virus corona dengan akurat.

Lalu, mutasi juga bisa membuat virus mengembangkan ketahanan (resistensi) atas obat antivirus yang tengah dikembangkan. Dengan demikian, para ahli kemungkinan perlu mengembangkan lebih dari 1 macam obat untuk mengatasi Covid-19. "Makin sulit virus bermutasi dan menjadi resisten jika mereka ditargetkan dari banyak titik

Namun, Grubaugh juga memprediksi bahwa virus corona baru ini tak akan bermutasi terlalu dramatis jika vaksinnya telah ditemukan. Selain itu, Grubaugh juga menilai bahwa variasi virus corona saat ini sepertinya tak akan banyak perubahan. Ia pun memperkirakan virus ini tidak akan bermutasi jadi lebih mematikan.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts