Skenario Terburuk, Kasus Corona DKI Jakarta Diprediksi Capai 8000 Orang
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Pangdam Jaya Mayjen Eko Margiyono mengungkap hasil simulasi soal pertambahan pasien positif Corona di DKI Jakarta. Ia memperkirakan pertambahan itu bisa mencapai 8 ribu orang.

WowKeren - DKI Jakarta masih menjadi provinsi dengan jumlah kasus positif Corona terbesar. Data 25 Maret mengungkap adanya 472 kasus positif Corona.

Jumlah kasus yang meninggal juga bertambah, dari yang sebelumnya 37 menjadi 43 kasus. Sedangkan total pasien sembuh juga meningkat menjadi 27 kasus. Akibatnya pemerintah Jakarta memberlakukan aturan untuk bekerja di rumah dan meminta masyarakat membatasi kegiatan outdoor.


Untuk antisipasi virus mematikan tersebut, pemerintah menjadikan Wisma Atlet Kemayoran sebagai RS Darurat untuk penanggulangan Corona. Pangdam Jaya Mayjen Eko Margiyono mengungkap kalau alasan berdirinya rumah sakit darurat tersebut untuk menampung pasien yang jumlahnya diperkirakan akan makin bertambah.

"Perlu kami sampaikan latar belakang didirikannya rumah sakit ini adalah pemerintah sudah mengantisipasi apabila penyebaran virus COVID-19 ini tidak bisa kita bendung, maka pasti akan banyak terpapar oleh virus ini sementara apabila kita mengandalkan rumah sakit-rumah sakit yang ada jelas tidak mungkin," kata Eko.

Dalam jumpa pers pada 26 Maret, Eko membagikan hasil simulasi dari Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) DKI Jakarta. Eko menjelaskan soal skenario terburuk kasus positif Corona bisa mencapai 8.000 orang.

"Dari hasil simulasi Forkompimda DKI karena daerah Jakarta paling banyak terpapar virus ini skenario terburuk adalah bisa mencapai 6.000 sampai 8.000 orang positif," seru Eko. "Oleh karena itu, untuk mengantisipasi pemerintah segera bertindak cepat mengubah, yang selama ini Wisma Atlet diubah menjadi rumah sakit darurat Covid-19. Rumah sakit ini terdiri dari beberapa gabungan instansi Kemenkes, Kementerian PUPR, Kementerian BUMN, TNI, Polri, dan relawan."

Eko sebelumnya sudah mengungkap soal syarat untuk mendapat pelayanan hingga prosedur penanganan di RS Darurat. Beda dari RS pada umumnya, RS Darurat memakai sistem berbasis teknologi.

"Kami ingin juga menyampaikan kepada masyarakat bahwa rumah sakit ini berbeda dengan rumah sakit-rumah sakit yang lain. Rumah sakit ini menerapkan sistem pelayanan self-handling, dengan sistem visit video call," seru Eko.

(wk/riaw)

You can share this post!

Related Posts