Bukan Vaksin, Perawatan Ini Yang Berpotensi Lawan Corona Dalam Waktu Dekat
Dunia
Pandemi Virus Corona

WHO menyebut vaksin penangkal virus Corona saat ini sedang dalam pengembangan dan akan selesai dalam 12-18 bulan ke depan. Oleh karenanya, peneliti juga mencari alternatif pengobatan.

WowKeren - Tak hanya Indonesia, wabah virus Corona telah menjadi "musuh bersama" untuk nyaris seluruh negara di dunia. Sebab hingga hari ini, Kamis (26/3), tercatat ada 196 negara yang terdampak oleh virus penyebab COVID-19 itu.

Namun diketahui pula virus ini bak belum menemukan lawan yang sepadan. Sebab sampai detik ini belum ada vaksin penangkal untuk mengatasi wabah yang sudah menjangkiti 893 orang di Indonesia tersebut.


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri menyebut setidaknya dibutuhkan waktu 12 sampai 18 bulan hingga vaksin penangkal wabah Corona bisa disebarluaskan. Saat ini, ujar WHO, para peneliti telah bekerja keras dan berpacu dengan waktu demi menuntaskan vaksin penangkal COVID-19.

"Lebih dari 20 vaksin sedang dalam pengembangan dari berbagai penjuru dunia. Juga ada beberapa terapi pengobatan yang saat ini sedang dalam pengujian klinis," terang WHO, dilansir dari Media Line, Kamis (26/3). "Belum ada vaksin dan perawatan tertentu, namun peneliti dari berbagai negara sedang berjuang keras untuk itu."

Padahal keganasan virus Corona ini tak bisa menunggu sampai 18 bulan ke depan. Oleh karenanya, diperlukan terapi perawatan lain yang bisa lebih efektif dalam menangkal wabah virus Corona, yang belakangan mulai menunjukkan titik terang.

Sebab Peter Jay Hotez, Guru Besar Virologis sekaligus dekan dari Baylor College of Medicine's National School of Tropical Medicine di Houston, Amerika Serikat, menyebut saat ini sudah ada terapi penangkal COVID-19 yang sedang dikembangkan, bahkan siap disebarluaskan dalam waktu dekat. Terapi apakah itu?

Menurut Hotez, terapi menggunakan serum antibodi dari pasien yang sudah sembuh lah yang sedang dikaji oleh para peneliti. Lewat metode ini, antibodi dari penyintas COVID-19 akan diinjeksikan kepada pasien positif.

Terapi ini disesuaikan dengan hasil penelitian yang dipublikasikan di The Journal of Infectious Disease pada 2014 silam. Dalam naskah ilmiah tersebut, peneliti menunjukkan bahwa antibodi dari plasma darah seorang penyintas suatu penyakit dapat secara efektif dan signifikan menurunkan tingkat kematian pasien positif penyakit tersebut. Hal ini terbukti dari penelitian di tengah wabah SARS awal 2000-an silam.

Lebih lanjut, menurut Hotez, setidaknya ada tiga langkah yang mesti dilakukan para peneliti dalam waktu dekat. "Obat antivirus yang ada sekarang harus 'dimodifikasi ulang' (agar efektif melawan SARS-CoV-2) dalam beberapa minggu atau bulan, lalu ada obat baru yang harus dikembangkan dalam setahun, dan vaksin penangkal dalam 1 sampai 3 tahun," ujarnya, dikutip dari The Jerusalem Post.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts