'Salip' Tiongkok dan Italia, AS Kini Jadi Negara Dengan Kasus Covid-19 Tertinggi di Dunia
Dunia
Pandemi Virus Corona

Apabila sebelumnya kasus virus corona (Covid-19) tertinggi terjadi di Tiongkok, yakni tempat virus tersebut pertama kali terdeteksi, kini posisi negeri Tirai Bambu telah 'disalip' oleh Amerika Serikat (AS).

WowKeren - Pandemi virus corona (Covid-19) semakin mewabah di seluruh belahan dunia. Dilansir situs worldometer pada Jumat (27/3) hari ini, total kasus Covid-19 di seluruh dunia telah mencapai 530.993 kasus.

Apabila sebelumnya kasus Covid-19 tertinggi terjadi di Tiongkok, yakni tempat virus tersebut pertama kali terdeteksi, kini posisi negeri Tirai Bambu telah "disalip" oleh Amerika Serikat (AS). Negeri Paman Sam kini menjadi negara dengan jumlah kasus Covid-19 tertinggi, dengan angka menembus 84.911 per hari ini.


Tiongkok sendiri berada di posisi kedua dengan total 81.285 kasus. Sedangkan di posisi ketiga ada negara Italia dengan total 80.589 kasus.

Melansir People, mayoritas kasus corona di AS berada di New York, dengan 37.258 pasien yang positif terjangkit Covid-19. Jumlah pasien corona yang meninggal di New York sendiri mencapai 387 orang.

Rumah Sakit di New York kini tengah berjuang untuk menangani tingginya kasus Covid-19. Pihak rumah sakit juga disebut sangat membutuhkan pasokan medis seperti masker dan ventilator.

Sementara itu, Gubernur New York Andrew Cuomo menuturkan bahwa ia memperkirakan kebutuhan 140 ribu tempat tidur rumah sakit di puncak krisis. Melansir NBC New York, angka tersebut lebih dari 2 kali lipat kapasitas saat ini.

Sebelumnya, kasus Covid-19 di AS pertama kali terkonfirmasi di Everett, Washington, pada akhir Januari 2020 lalu. Pasien tersebut baru saja kembali dari Wuhan, Tiongkok.

Sedangkan kasus kematian akibat Covid-19 pertama di AS terjadi sekitar sebulan setelahnya, yakni pada 29 Februari 2020. Pasien meninggal tersebut adalah seorang wanita berusia 50-an yang sebelumnya telah memiliki gangguan kesehatan.

Di sisi lain, virus corona sendiri telah menyebar ke setidaknya 182 negara di seluruh dunia. Jumlah pasien yang terinfeksi sendiri diyakini lebih tinggi dari angka yang dilaporkan. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya negara yang hanya menguji kasus parah atau pasien yang memerlukan rawat inap.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts