Alasan Italia 'Pecah Rekor' Korban Jiwa COVID-19 Terungkap, Bagaimana Indonesia?
AP Photo
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Pakar kesehatan mengungkap alasan mengapa korban jiwa akibat COVID-19 di Italia melampaui Tiongkok yang notabene episentrum wabah. Poin-poin itu, mencengangkannya, juga bisa dilihat di Indonesia.

WowKeren - Wabah COVID-19 yang terjadi di Italia terus menyita perhatian banyak orang. Bagaimana tidak? Sebab dalam waktu singkat jumlah kasus positif di sana melonjak tajam sampai nyaris melampaui Tiongkok sebagai episentrum wabah.

Namun di angka korban jiwa dari penyakit inilah yang begitu menyita perhatian. Pasalnya jumlah kasus positif COVID-19 di Italia yang berakhir dengan kematian begitu luar biasa tinggi, bahkan dua kali lipat dibandingkan dengan di Tiongkok.


Tentu menjadi pertanyaan, mengapa wabah sebesar ini bisa terjadi di Italia? Pakar Imunologi dari University of Reading, Alexander Edwards, menyebut sikap acuh tak acuh dan respons yang lambat lah penyebab utama.

"Ada banyak penyebaran virus yang terjadi jauh sebelum orang-orang menyadarinya," ungkap Edwards pada Kamis (26/3) waktu setempat, dilansir dari CNBC. Menurut Edwards, menjadi kecenderungan orang Eropa dan Italia menganggap bahwa wabah terjadi di "suatu tempat yang jauh".

Ketika pemerintah menyadari, situasi sudah begitu terlambat. Kendati kemudian Italia ikut menerapkan lockdown total, seperti yang diaplikasikan di Tiongkok, nyatanya langkah ini tetap begitu terlambat. "Italia berada jauh di belakang," ujar Edward.

Lain pendapat dikemukakan oleh Epidemiologis dari Universitas Warwick, Michael Tildesley. Tildesley menilai Italia tak memiliki kuantitas dan kualitas alat tes yang mumpuni.

Padahal, semakin banyak orang yang bisa dijangkau oleh pemeriksaan COVID-19, maka makin baik pula kebijakan yang diambil pemerintah. Bila dibandingkan, Korea Selatan lah yang sudah menempuh jalan ini dan menuai hasil positif.

Kemudian, faktor kebudayaan dan demografis juga mempengaruhi. Menurut Edward, Italia merupakan negara dengan jumlah penduduk lansia terbesar di dunia setelah Jepang. Padahal lansia lah yang menjadi "sasaran empuk" penyakit ini.

"Setiap pekan, anak-anak muda Italia berkunjung ke rumah kakek nenek mereka," jelas Edwards, mensimulasikan hal yang lantas berdampak pada penyebaran virus. "Mereka mencium kakek nenek mereka, mereka pergi ke gereja bersama, makan bersama."

Tentu poin-poin ini patut diperhatikan lebih lanjut oleh Indonesia, apalagi mengingat jumlah kasus positif yang terus meningkat tajam. Bahkan hari ini (27/3) pemerintah mengonfirmasi ada lebih dari seribu kasus positif COVID-19 di Indonesia.

Dari segi respons yang lambat, banyak yang menilai pemerintah terlambat menyikapi situasi. Namun pemerintah memperbaiki kesalahan tersebut dengan langsung menggerakkan work from home, physical distancing, dan rapid test massal.

Dari segi tes, Indonesia pun berusaha menyusul ketertinggalannya. Sementara dari segi kebudayaan dan demografis, Indonesia patut lebih waspada.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts