Sudah Tewaskan 102 Orang, Pakar Ungkap Virus Corona Punya Kelemahan Ini
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Komandan Penanganan Corona di Jatim, dr Joni Wahyuhadi, menjelaskan virus penyebab COVID-19 memang begitu menakutkan namun tetap memiliki kelemahan. Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

WowKeren - Lonjakan kasus positif COVID-19 besar-besaran kembali terjadi di Indonesia. Dalam konferensi pers terbarunya pada hari ini (28/3), Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona, Achmad Yurianto, menyebut sebanyak 102 kasus positif COVID-19 berakhir dengan kematian.

Tentu angka ini menjadi perhatian banyak orang karena membuktikan seberapa ganasnya virus tersebut. Namun keganasan virus ini masih "diimbangi" dengan satu kelemahan yang baru-baru ini diungkap oleh seorang dokter dari Jawa Timur.


Adalah dr Joni Wahyuhadi, paramedis yang ditugaskan menjadi Komandan Gugus Kuratif Penanganan COVID-19 Jawa Timur yang blak-blakan membeberkan kelemahan virus Corona. Menurutnya, virus itu punya satu kelemahan, yakni daya tahannya yang lemah di suhu panas.

"Virus ini kalau di daerah panas daya tahannya kurang," terang Joni di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Sabtu (28/3). "Tapi kita tidak boleh lengah meski Indonesia daerah tropis. Kita tetap waspada."

Tentu situasi ini menjadi nilai plus tersendiri bagi Indonesia yang memang berada di garis khatulistiwa. Namun kelemahan ini tak ada gunanya bila masyarakat masih tidak bisa menerapkan social distancing dengan baik. Alih-alih bergantung pada kelemahan virus, Joni menyebut social distancing justru lebih memberikan efek signifikan terhadap penularan wabah.

"Jadi meski corona daya tahannya kurang bila terkena panas, masyarakat harus tetap social distancing. Karena bisa membantu menekan angka 40 persen (ODP) dari teori yang ada," terang Joni, dilansir dari Detik News.

"Saat ini banyak yang positif sekitar 80 persen tidak bergejala. Tetapi bisa ditularkan di dalam ruangan, juga di mobil. Apalagi ada AC dan ruangannya sempit," imbuhnya, memberikan sejumlah poin mengerikan dari virus tersebut. "Saat kita tidak tahu ada yang positif tanpa menunjukkan gejala apapun, itu bahaya, daya tularnya cepat sekali."

Joni lantas mencontohkan Italia yang belakangan menjadi negara dengan kasus positif COVID-19 terbanyak di dunia. Angka-angka ini, tutur Joni, tak lepas dari sikap skeptis warganya ketika diminta melakukan social distancing.

"Di Italia mengapa angkanya sangat cepat, karena suhu di sana dingin, lalu warganya tidak patuh," pungkasnya. "Memang virus ini awalnya dari percikan lalu menempel di tubuh kita, benda kita. Akhirnya ketika tidak waspada bisa berbahaya."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts