Pandemi Corona Bisa Picu Resesi Dunia, Ini Dampak 'Mengerikan' yang Bakal Dirasakan Indonesia
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Menurut Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, tercatat adanya peningkatan kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian ekonomi imbas pandemi virus corona (Covid-19).

WowKeren - Pandemi virus corona (Covid-19) yang telah menyebar ke ratusan negara berpeluang besar memicu resesi global tahun ini. Meski penyebarannya di Tiongkok telah menurun tajam, namun negara-negara lain kini justru kesulitan mengatasi mewabahnya virus ini.

Kini, Eropa dan Amerika telah menjadi episentrum baru penyebaran virus corona. Untuk menekan angka penyebaran Covid-19, diberlakukan langkah pembatasan mobilitas seperti kebijakan lockdown.


Sayangnya, kebijakan tersebut berbuntut panjang karena membuat kegiatan ekonomi hampir lumpuh. Menurut Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, tercatat adanya peningkatan kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian ekonomi imbas Covid-19. Hal ini tercermin dari indeks pasar modal di berbagai belahan dunia yang turun tajam.

Lemahnya permintaan global membuat harga sejumlah komoditas seperti batu bara, minyak sawit, dan logam merosot. Harga minyak mentah bahkan turun hingga di bawah USD 25. "Selain karena melemahnya permintaan global, ini juga dipicu gagalnya kesepakatan negara-negara produsen khususnya Arab Saudi dan Rusia untuk memangkas produksi minyak," tulis CORE dalam laporannya dilansir Kumparan pada Minggu (29/3) hari ini.

Pandemi global ini juga akan berdampak ke pertumbuhan ekonomi Indonesia. Jumlah penderita yang terus melesat naik dan tingkat kematian atau fatality rate yang lebih tinggi dibanding negara-negara lain dalam sebulan terakhir ini dinilai sangat mengkhawatirkan.

Kebijakan physical distancing yang membatasi aktivitas masyarakat di luar rumah juga disebut berdampak buruk pada ekonomi. "Respons pemerintah dan masyarakat yang melakukan upaya pencegahan, seperti penutupan sekolah, work from home khususnya pekerja sektor formal, penundaan dan pembatalan berbagai event-event pemerintah dan swasta, membuat roda perputaran ekonomi melambat," lanjut CORE.

Penjualan ritel, baik di pasar tradisional maupun modern, dipastikan turun. Konsumsi swasta yang menyumbang hampir 60 persen pergerakan ekonomi nasional juga dipastikan akan kontraksi.

Selain itu, bidang pariwisata juga turut terimbas. Tekanan pada konsumsi swasta ini dipastikan akan lebih dalam pada bulan Maret dan juga bulan-bulan berikutnya. "Penurunan pertumbuhan ekonomi global, khususnya negara-negara tujuan ekspor dan pelemahan harga-harga komoditas akan memberikan tekanan pada ekspor Indonesia," terang CORE.

Diketahui, negara-negara yang menjadi tujuan utama ekspor Indonesia, seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa, telah menjadi pusat pandemi Covid-19. Penurunan ekspor ini juga akan dibarengi dengan penurunan impor lantaran kegiatan ekonomi domestik turun.

Dengan demikian, pengaruh net-ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi domestik tahun ini relatif kecil. Tahun lalu pengaruh net- ekspor memberikan kontribusi -0,5 persen terhadap PDB.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts