Guru Besar Unair Pastikan Cairan Bilik Disinfektan Surabaya Aman Untuk Manusia
Twitter/SapawargaSby
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Sebelumnya WHO meminta pemerintah berhati-hati saat menyiapkan cairan untuk bilik disinfektan. Cairan untuk bilik tersebut yakni alkohol dan klorin disebut-sebut memberi efek buruk bagi kesehatan.

WowKeren - Seiring dengan melonjaknya kasus positif corona, Indonesia mengikuti jejak negara-negara lain dengan membuat bilik disinfektan. Sejumlah tempat umum seperti masjid, mal dan perkantoran mulai dilengkap dengan bilik disinfektan.

Di sisi lain, WHO meminta agar pemerintah berhati-hati dalam menyiapkan cairan untuk bilik disinfektan. Pasalnya alkohol dan klorin yang disemprotkan untuk disinfeksi dapat memberikan efek buruk untuk kesehatan.


Bukan hanya itu, WHO pun mengungkap bahwa menyemprotkan alkohol dan klorin tak bisa membunuh virus dalam tubuh meski biasa digunakan untuk sterilisasi pada benda seperti meja dan perabotan lain. Bahkan, kedua senyawa kimia ini punya sifat iritatif yang tinggi sehingga berbahaya jika terkena mata dan mulut. Klorin dapat membuat seseorang susah bernafas, sedangkan alkohol terkadang membuat kulit terasa perih dan terbakar.

Bahkan sejauh ini WHO merekomendasikan agar masyarakat mencuci tangan menggunakan sabun minimal 20 detik. Hal tersebut dinilai lebih efektif ketimbang memakai bilik disinfektan.

Terkait hal tersebut, Guru Besar Universitas Airlangga (Unair) Prof dr. Chairul Anwar Nidom memastikan kandungan dalam cairan disinfektan aman untuk manusia. "InsyaAllah aman untuk manusia, intinya aman asal campurannya benar," kata Prof Nidom yang juga Ketua Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin dari Professor Nidom Foundation (PNF) di Surabaya pada Minggu (29/3) seperti dilansir dari Liputan6.

Sang profesor menambahkan benzalkonium chloride yang terkandung dalam disinfektan tersebut aman untuk manusia karena levelnya tingkat rendah. Walau benzalkonium chloride juga dimanfaatkan untuk penyemprotan kandang, Guru Besar Unair Suarabaya ini memastikan dalam aturan umum disinfektan tidak ada masalah jika digunakan untuk manusia.

"Tapi, yang terpenting adalah tujuannya untuk membunuh mikroorganisme," katanya. "Nah, kebetulan mungkin banyak dipasarkan di wilayah peternakan, tapi itu tidak ada masalah. InsyaAllah aman."

Senada dengan Guru Besar Unair, Ketua Departemen Farmasetika Fakultas Farmasi, Universitas Airlangga Surabaya (Unair), Retno Sari menyebut selama ini yang digunakan untuk penyemprotan di bilik sterilisasi atau bilik disinfeksi sebenarnya adalah benzalkonium chloride. Menurutnya, surfaktan artinya akan mempengaruhi permukaan, seperti halnya bahan aktif yang terdapat dalam sabun.

"Prinsipnya dia merupakan kelompok senyawa ammonium quarterner yang bersifat surfaktan," kata Retno Sari. "Artinya kalau kita mencuci tangan dengan sabun, itu bahan-bahan yang lemak protein itu akan berikatan kemudian dia akan terjadi menggumpal kemudian akan merusak."

Sementara itu, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan pihaknya sudah mulai memasang sanitizer chamber di beberapa tempat di Surabaya seperti di Balai Kota Surabaya, Taman Bungkul, Kebun Binatang Surabaya (KBS) dan depan Tunjungan Plaza (TP). Risma berencana menambah bilik sakti tersebut di tempat lainnya.

"Nanti kita akan tambah lagi, kita produksi terus sanitizer chamber ini untuk warga Kota Surabaya," kata Risma. "Sehingga keluarga kita tidak ikut tercemar virus atau bakteri yang kita bawa dari luar. Saya berharap jaraknya nanti antre tetap satu meter lebih. Jangan berdesakan ketika antre mau masuk sanitizer chamber itu."

(wk/tria)

You can share this post!

Related Posts