Kenali Gejala Psikosomatik Seolah Terkena Corona, Begini Solusi Menanganinya
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Waspada gejala-gejala psikosomatik yang akan membuat seseorang seolah-olah merasakan terinfeksi virus corona (COVID-19). Begini solusi untuk menanganinya.

WowKeren - Pandemi virus corona (COVID-19) saat ini memang telah mengguncang dunia setelah menewaskan lebih dari 40 ribu orang. Pemberitaan mengenai virus corona (COVID-19) memang sampai saat ini terus mewarnai berbagai media.

Situasi pandemi ini tentunya membuat masyarakat semakin khawatir dan panik. Bahkan, situasi ini dapat berdampak buruk terhadap psikologis seseorang hingga memicu gejala psikosomatik.


Gejala psikosomatik di tengah pandemi ini sendiri akan membuat seseorang seolah-olah merasa sedang terinfeksi virus corona, padahal tidak. Psikosomatik sendiri berasal dari dua kata, yaitu pikiran (psyche) dan tubuh (soma). Kondisi ini merupakan gangguan ketika pikiran mempengaruhi tubuh hingga memicu keluhan fisik tanpa adanya penyakit.

Kepala Departemen Psikologi Unesa sekaligus Tim Crisis Center COVID-19 Unesa, Diana Rahmasari menjelaskan jika gejala tersebut membuat orang tersugesti terkena corona. Apalagi jika orang tersebut hanya mengalami batuk sedikit maupun pilek, secara otomatis akan mengidentifikasi dirinya terkena COVID-19.

”Dalam kondisi ini, maka individu akan mudah tersugesti, mengidentifikasikan diri dengan gejala orang yang positif terpapar corona,” terang Diana seperti dilansir dari SuaraSurabaya,” Kamis (2/4). “Batuk sedikit, batuk pilek, sudah langsung merasa gejala terjangkit atau terpapar corona.”

“Bisa juga menjadi sedemikian takut dan cemasnya terkena virus, sehingga menjadi paranoid,” sambungnya. “Seperti mau ngapa-ngapain takut kena virus. Kondisi ini diperparah jika banyak mengonsumsi berita hoaks yang tidak edukatif mengenai corona atau COVID-19.”

Gejala psikosomatik ini sendiri menjadi lebih parah jika masyarakat kesulitan melakukan isolasi diri. Terlebih bagi orang yang selalu senang menikmati waktu di luar rumah, sehingga saat terisolasi akan merasakan berbagai perasaan negatif.

”Apalagi individu yang memiliki kepribadian tipikal kinestetik, minat outdoor tinggi dan need affiliasi tinggi,” jelas Diana. “Maka akan mudah jenuh bahkan bisa stres ya karena tidak bisa ketemu teman, berkegiatan di luar rumah.”

Diana mengungkapkan solusi agar gelala-gejala psikosomatik dapat hilang. Menurutnya, seseorang yang merasakan gejala ini perlu mencari sejumlah kegiatan yang produktif serta kreatif saat terjebak di dalam rumah. Hal ini dipercaya dapat menumbuhkan pikiran positif sehingga tekanan akan berkurang.

”Mengubah mindset terhadap kondisi saat ini dengan berpikir positif. Memaknai kondisi di rumah aja secara positif,” saran Diana. “Ambil hikmahnya seperti bisa lebih dekat dengan keluarga, lebih punya waktu menjalankan hobi seperti masak, menulis, membuat prakarya, dan lain-lain juga lebih bisa meningkatkan ibadah.”

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts