Dampak Pandemi Corona di Indonesia Disebut Lebih Buruk Dari Krisis 98
Getty Images
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Para ahli memprediksi dampak pandemi Corona pada perekonomian Indonesia akan lebih buruk dibanding krisis tahun 1998 silam. Kondisi ini membuat pemerintah dilanda kekhawatiran.

WowKeren - Indonesia saat ini tengah berjuang melawan pandemi Corona yang mengakibatkan krisis kesehatan sekaligus menyerang sektor ekonomi. Para ahli berharap agar sejarah kelam Indonesia tidak terulang lagi setelah peristiwa tahun 1998 yang benar-benar membuat perekonomian Indonesia seketika lumpuh. Pasalnya, pandemi virus Corona terhadap ekonomi diproyeksi akan lebih buruk dibandingkan krisis keuangan yang terjadi pada 1998-1999.

Hal ini disebabkan tak hanya sektor keuangan saja yang tertekan, namun juga sektor riil, termasuk UMKM dan informal, yang terganggu akibat pandemi COVID-19. Padahal di 1998-1999, UMKM menjadi salah satu sektor penyelamat krisis keuangan. Namun saat ini, sejumlah pelaku usaha kecil dan menengah juga mengalami kesulitan.

Lembaga pemeringkat internasional Moody’sInvestors Service memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini hanya 3 persen. Pertumbuhan ini merupakan yang terendah sejak krisis ekonomi melanda Asia tahun 1998-1999.

Tak hanya itu, Moody’s juga memproyeksi defisit transaksi berjalan Indonesia akan melebar 3,5 persen di tahun ini, dari tahun lalu yang hanya 2,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Kurs yang melemah dan rendahnya harga minyak global akan memberikan tekanan eksternal bagi Indonesia.

Penurunan cadangan devisa Indonesia juga akan lebih cepat. Hal ini lantaran derasnya modal asing yang keluar dan intervensi bank sentral untuk menstabilkan rupiah. Dalam skenario terburuknya, Moody’s memperkirakan cadangan devisa RI akan turun di bawah USD 96 miliar.


Penurunan ekonomi ini juga disebutkan akan semakin menambah jumlah pengangguran. Direktur Eksekutif Core Indonesia, Mohammad Faisal mengatakan hasil riset yang memproyeksi ekonomi RI bisa minus 0,2 persen di tahun ini.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran terbuka di Indonesia naik 50.000 orang di Agustus 2019. Sehingga total orang yang menganggur menjadi 7,05 juta di Agustus 2019.

Angka tersebut meningkat jika dibandingkan Agustus 2018 yang sebanyak 7 juta orang menganggur. Bahkan jika dibandingkan dengan Agustus 2017 yang sebanyak 7,04 juta orang dan Agustus 2016 sebanyak 7,03 juta orang.

Sementara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 5,28 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 5,34 persen. "Pengangguran terbuka bisa meningkat sampai 1 persen, tapi di luar itu yang lebih besar lagi adalah peningkatan pengangguran terselubung dan yang separuh menganggur," kata Faisal mengutip Kumparan, Senin (6/4).

Virus Corona juga akan memukul ekspor dan efeknya akan berantai hingga ke sektor konsumsi rumah tangga dan investasi. Daya beli juga diperkirakan akan rendah di tahun ini. Apalagi maslaha ekspor-impor yang berhubungan dengan negara China. Hal ini tentu berimbas pada proses produksi. "Begitu juga barang konsumsi, jika pasokan lokal tak tersedia, maka harga akan meningkat," ujarnya.

(wk/wahy)

You can share this post!

Related Posts