Tak Cuma Ganggu Pernapasan, Virus Corona Ternyata Juga Bisa Hidup di Saluran Pencernaan
Health

Virus Corona penyebab COVID-19 ternyata tak hanya hidup di saluran pernapasan, tetapi bisa juga 'menginvasi' saluran pencernaan dan urine. Begini penjelasan lengkapnya.

WowKeren - Tiongkok dan Korea Selatan kini tengah dibuat geger dengan banyaknya penyintas COVID-19 di negara mereka yang kembali terinfeksi virus Corona. Hal ini membuat pemerintah setempat mengkhawatirkan adanya gelombang kedua wabah COVID-19.

Beberapa ahli pun mengungkap setidaknya dua hal yang menyebabkan fenomena ini terjadi. Salah satunya adalah reaktivasi yang ikut mengungkap fakta mengejutkan lain, bahwa virus Corona ternyata juga bisa hidup di saluran pencernaan.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME), Profesor Amin Soebandrio. Sang guru besar menyebut virus Corona memiliki kemampuan untuk bisa hidup di saluran tubuh lain seperti pencernaan hingga urin.

Oleh karena itu virus tersebut tak terdeteksi ketika sampel dari usap tenggorokan diperiksa, sebab virus-virus itu memang tak berada di sana. Namun ketika tubuh dalam kondisi tidak sehat, virus ini akan kembali aktif dan menginfeksi tubuh.


"Diketahui virusnya itu bisa hidup tidak hanya di saluran napas, tidup tidak hanya di saluran napas," kata Prof Amin, Rabu (15/4). "Tetapi bisa juga di saluran feses dan urine walaupun jumlah frekuensinya jauh lebih rendah dibandingkan di saluran napas," ujar Prof Amin, Rabu (15/4). "Jadi kemungkinan reaktivasi itu masih mungkin terjadi."

Selain reaktivasi, bisa saja seseorang kembali terinfeksi virus Corona, kendati telah sempat sembuh, karena proses yang disebut sebagai reinfeksi. Reinfeksi sendiri berarti virus kembali menginfeksi tubuh dan menimbulkan gejala klinis.

"Setelah sembuh kan dia baru keluar dari satu fasilitas yang ada virusnya dan mungkin di tubuhnya sudah tidak temukan," jelasnya, dilansir dari Detik Health, Kamis (16/4). "Tapi di lingkungan itu kan masih ada. Jadi ada kemungkinan ada paparan terakhir saat dia keluar."

Penjelasan Prof Amin sekaligus membenarkan pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) soal tidak kebalnya penyintas COVID-19 dari penyakit tersebut. Oleh karenanya, imbuh Prof Amin, karantina mandiri selama 2 minggu pasca sembuh menjadi sangat penting demi menghindari terjadinya hal ini.

"Pasien yang dinyatakan sembuh walaupun sudah negatif tetap harus diminta karantina mandiri selama minimum dua minggu," pungkasnya.

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait